Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Sunday, 30 July 2017

Melahirkan Dengan Mudah,Dengan Cara Hypno-Birthing

Melahirkan Dengan Mudah dengan cara Hypno-Birthing


Beberapa hari lalu rekan aku menghubungi aku dan bertanya perihal hypnobirthing. Inti berasal dari pertanyaan rekan aku ini adalah apakah benar seorang wanita mampu melahirkan tanpa rasa sakit? Apakah hipnosis mampu digunakan untuk membantu seorang wanita agar melahirkan bersama dengan mudah, nyaman, dan menyenangkan?

Nah, pembaca, jawaban singkat untuk pertanyaan rekan aku ini adalah “Bisa”. Ok, jika memang benar hipnosis mampu digunakan untuk membantu sistem persalinan agar seorang wanita tidak kembali merasa sakit kala melahirkan, lalu bagaimana caranya?

Nah, ini yang dapat aku jelaskan di artikel ini. Penjelasan ini terhitung merupakan ringkasan berasal dari jawaban yang aku berikan kepada rekan aku ini. Jujur, kamu tidak dapat mampu melaksanakan hypnobirthing cuma bersama dengan membaca artikel ini. Namun paling tidak kamu dapat mendapat wawasan bagaimana memang seorang hipnoterapis membantu wanita untuk mampu melaksanakan hypnobirthing.




Hypnobirthing adalah kombinasi berasal dari dua kata yaitu hypnosis dan birthing. US. Dept. of Education, Human Services Division mendefiniskan: Hypnosis is the bypass of the critical factor of conscious mind plus followed by the establishment of acceptable selective thinking atau hipnosis adalah penembusan aspek kritis berasal dari anggapan mengetahui dan diikuti bersama dengan diterimanya suatu inspirasi atau pemikian. Sedangkan birthing artinya persalinan atau melahirkan. Jadi, hypnobirthing adalah sistem persalinan yang mengfungsikan dukungan situasi hipnosis.

Pertanyaanya saat ini adalah bagaimana kok mampu wanita yang melahirkan bersama dengan dukungan situasi hipnosis mampu mirip sekali tidak merasakan sakit?

Sebelum aku menjawab pertanyaan di atas aku yang inginkan bertanya kepada anda, “Apakah melahirkan kudu selalu bersama dengan rasa sakit?”, “Mengapa jika wanita melahirkan, umumnya, selalu diikuti oleh rasa sakit yang luar biasa?”

Jawaban untuk pertanyaan pertama, “Melahirkan tidak kudu diikuti bersama dengan rasa sakit”. Untuk pertanyaan kedua, aku kudu menyatakan sedikit lebih detil.

Dari mana munculnya rasa sakit? Dari hasil programming sejak kecil. Saya percaya anda, wanita, tentu pernah mendengar, sejak kamu masih kecil, bahwa melahirkan adalah pengalaman yang begitu menakutkan dan menyakitkan. Anda bisa saja mendengar perihal ini berasal dari orangtua, rekan, fasilitas masa, lingkungan anda, atau menyaksikan di televisi bagaimana menderita dan sulitnya sistem persalinan.

Saat apa yang kamu dengar dan menyaksikan ini masuk ke anggapan bawah mengetahui kamu maka informasi ini menjadi program yang dapat menentukan realita anda. Jadi, kala anda, wanita, berkenan melahirkan dan mengalami kontraksi yang pertama, maka terhadap kala itu program “kalau melahirkan tentu sakit sekali” langsung bekerja.

Apa yang terjadi? Benar sekali. Anda dapat merasakan sakit yang luar biasa.

Mengapa kok mampu hingga timbul rasa sakit?

Rasa sakit terlihat sebab wanita yang berkenan melahirkan merasa tegang dan takut, akibat sudah mendengar beragam cerita seram seputar melahirkan. Perasaan ini setelah itu membawa dampak jalur lahir (birth canal) menjadi mengeras dan menyempit. Nah, terhadap kala kontraksi alamiah mendorong kepala bayi untuk merasa melalui jalur lahir, berjalan resistensi yang kuat. Ini yang membawa dampak rasa sakit yang dialami seorang wanita.

Lha, bagaimana tidak sakit. Bayi, bersama dengan dorongan kontraksi alamiah, selayaknya mampu bersama dengan mudah, lancar, dan mulus, melalui jalur lahir dan terlihat bersama dengan mudah, mendapat rintangan sebab jalur lahir menyempit dan tegang. Semakin si wanita merasa tegang dan takut, makin kaku dan menyempit jalur lahirnya, dan makin sakit jadinya.

Sekarang kamu mengetahui mengapa wanita jika melahirkan biasanya mengalami “penderitaan” dan rasa sakit.

Lalu, bagaimana hipnosis mampu membantu perihal ini? Mudah saja. Berikut adalah langkah-langkah yang kudu ditunaikan untuk melaksanakan hypnobirthing.

Pertama, hipnoterapis kudu melaksanakan re-edukasi terhadap calon ibu ini. Melahirkan tidak kudu bersama dengan rasa sakit. Tubuh wanita didesain untuk mampu melahirkan tanpa rasa sakit. Rasa sakit terlihat sebab sebab-sebab yang sudah dijelaskan di atas.

Wanita di pedalaman Cina dan lebih dari satu daerah di India mampu melahirkan bersama dengan benar-benar ringan dan mirip sekali tanpa rasa sakit. Wanita hamil, di daerah itu, yang tengah bekerja di sawah, jika melahirkan, cuma kudu berteduh, jongkok sebentar, dan melahirkan bersama dengan begitu mudah. Bayi terlihat bukan sebab dorongan tetapi sebab tarikan gravitasi bumi. Setelah melahirkan, mereka cukup istirahat sejenak, kira-kira 5 hingga 10 menit. Setelah itu mereka kembali bekerja seperti biasa.

Mengapa mereka mampu seperti ini? Karena inilah realita persalinan yang dikenal oleh warga di daerah ini. Inilah program cara melahirkan yang mereka dapatkan sejak kecil. Dan sama juga seperti itulah yang mereka alami.

Setelah melaksanakan reedukasi maka hipnoterapis melaksanakan cara selanjutnya. Apa itu?

Kunci berasal dari hypnobirthing memang adalah self hypnosis yang kudu ditunaikan oleh wanita yang dapat melahirkan, tentunya bersama dengan dukungan hipnoterapis kompeten, untuk mampu masuk ke situasi hipnosis yang benar-benar dalam, dan mengaktifkan program yang diinstal oleh si hipnoterapis, yang dapat aktif kala wanita ini dapat melahirkan.

Hipnoterapis dapat membantu klien untuk masuk ke situasi hipnosis yang benar-benar dalam. Ini syarat mutlak. Istilah teknisnya adalah profound somnambulism. Selanjutnya klien kudu mampu menggapai level Esdaile.

Mengapa kudu benar-benar dalam? Karena kala masuk ke situasi yang benar-benar dalam, anggapan bawah mengetahui benar-benar reseptif menerima beragam sugesti, terhitung sugesti bahwa fisik klien menjadi begitu rileks dan nyaman. Selain itu, kala sukses menggapai level Esdaile maka berjalan anestesi spontan dan natural.

Setelah sukses membimbing klien masuk ke situasi hipnosis yang dibutuhkan, hipnoterapis mengimbuhkan sugesti bahwa tubuh klien begitu rileks dan nyaman, seluruh otot-otot tubuh menjadi begitu lemas dan nyaman. Sugesti tubuh klien rileks punya tujuan untuk membawa dampak jalur lahir menjadi begitu rileks dan ringan meregang mengimbuhkan jalur terlihat bagi bayi.

Selanjutnya hipnoterapis membimbing klien masuk situasi Esdaile untuk melatih klien menghasilkan anestesi spontan dan natural.

Setelah sukses melaksanakan perihal di atas hipnoterapis menempatkan anchor dan mengimbuhkan posthypnotic suggestion dan menghendaki klien untuk berlatih masuk dan terlihat situasi deep hypnosis, di rumah, sedikitnya 10 kali per hari.

Pada sesi seterusnya hipnoterapis dapat menguji hasil latihan klien ini. Bila klien melaksanakan latihan bersama dengan benar maka klien tentu mampu masuk bersama dengan benar-benar cepat dan didalam ke situasi very deep hynosis bersama dengan mengaktifkan anchor yang sudah dipasang.

Hipnoterapis lalu menguji anestesi spontan yang terlihat akibat klien menggapai situasi Esdaile. Anestesi ini berjalan di seluruh tubuh. Jika klien lolos uji ini maka hipnoterapis melanjutkan bersama dengan melatih klien melokalisir anestesi yang sudah sukses klien ciptakan, terbatas cuma terhadap wilayah tubuh merasa berasal dari sama juga di bawah lipatan payudara hingga ke pertengahan paha, pada pangkal paha dan lutut.

Setelah klien sukses dibimbing melokalisir wilayah anestesi, dan bersama dengan diberikan lebih dari satu sugesti tambahan, klien boleh pulang dan berlatih sepanjang 1 minggu lagi.

Minggu seterusnya kembali hipnoterapis dapat melaksanakan uji hasil latihan minggu sebelumnya. Bila klien sukses melaksanakan seluruh yang diajarkan bersama dengan sempurna maka ia siap untuk melaksanakan hypnobirthing. Hipnoterapis setelah itu mengimbuhkan lebih dari satu posthypnotic suggestion yang berhubungan bersama dengan kecepatan pulih, kapan pendarahan berhenti, produksi ASI, dan hal-hal lain yang dirasa perlu.

Mengapa kudu mengfungsikan anchor untuk mengaktifkan program rileksasi?

Wanita jika sudah panik atau sakit dapat benar-benar susah diminta rileks. Jadi, untuk mudahnya begitu wanita mengalami kontraksi pertama maka ia mampu bersama dengan mengetahui mengaktifkan anchor yang sudah dipasang dan sudah ia latih sekian lama. Begitu anchor diaktifkan maka ia dapat langsung masuk ke situasi rileksasi fisik dan anggapan yang begitu dalam, nyaman, dan menyenangkan.

Pada kala itu tubuh dan pikirannya siap untuk persalinan. Tubuh yang rileks, jalur lahir yang rileks membawa dampak sistem persalinan menjadi begitu mudah. Anestesi yang sudah dilatih, yang dilokalisir pada lipatan payudara dan paha, membawa dampak wanita mirip sekali tidak merasa apa-pun di wilayah ini.

Apakah kudu mendorong bayi keluar? Tidak perlu. Saat tubuh benar-benar rileks kontraksi alamiah dapat mendorong bayi bersama dengan ringan tanpa kudu dipaksa. Wanita mendorong bayi terlihat sebab melawan resistensi akibat jalur lahir yang tegang dan menyempit.

Setelah mendengar jawaban ini rekan aku bertanya, “Apa bedanya teknik yang Bapak jelaskan bersama dengan yang ditulis di buku Hypnobirthing?”

Saya memiliki lebih dari satu buku perihal melahirkan tanpa rasa sakit. Khusus di Indonesia ada dua judul. Yang satu adalah terjemahan berasal dari buku luar negeri dan yang satu kembali ditulis oleh penulis didalam negeri. Saya tidak mampu komentar perihal apa yang dijelaskan di buku-buku ini.

Pemahaman setiap orang perihal hypnobirthing tentunya tidak sama bergantung terhadap latar belakang pendidikan dan pelatihan mereka. Dan yang aku jelaskan di sini adalah apa yang aku pahami sebagai hypnobirthing berdasar pengetahuan dan pembelajaran yang aku dapatkan.

Jika mengfungsikan acuan penjelasan aku di atas maka prosedur hypnobirthing kudu ditunaikan oleh tiga pihak. Pertama, oleh seorang hipnoterapis kompeten. Ini untuk melatih klien masuk situasi profound somnambulism dan Esdaile. Selanjutnya hipnoterapis dapat melatih dan mengimbuhkan beragam sugesti pascahipnosis yang sesuai, plus tentunya menempatkan anchor.

Kedua, klien itu sendiri. Klien kudu bersedia melaksanakan apa yang diajarkan oleh hipnoterapisnya. Klien kudu bersedia berlatih di rumah cocok program yang sudah disusun oleh hipnoterapisnya. Hasil latihan ini yang nantinya dapat digunakan kala melahirkan.

Ketiga, setelah klien sukses melaksanakan seluruh yang diajarkan oleh hipnoterapis maka sistem persalinan adalah urusan dokter yang membantu persalinan.

Pengalaman aku sebagai seorang hipnoterapis membuktikan bahwa dibutuhkan pemahaman yang mendalam perihal cara kerja pikiran, teknik induksi yang sesuai, cara menempatkan posthypnotic suggestion, menempatkan anchor, dan latihan untuk mampu membawa klien masuk situasi very deep hypnosis. Dan ini tidak mampu dipelajari cuma didalam kala 1 atau 2 hari saja.

Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator plus Mind Navigator, adalah ahli pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang sudah bicara di beragam kota besar di didalam dan luar negeri. Ia sudah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal didalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi mampu dihubungi melalui e-mail adi@adiwgunawan.com dan www.adiwgunawan.com , www.QLTI.com.

Sumber Lain klik sini
Tag : , , , ,

Tuesday, 31 May 2016

KEBERUNTUNGAN DAN KEKAYAAN HIDUP ANDA MENURUT ILMU FENG SHUI

Feng Shui menjadi hal yang begitu menarik belakangan ini di dalam dunia bisnis yang sukses. Feng Shui merupakan sistem filsafat Cina kuno mengenai pengorganisasian lingkungan untuk menarik keberuntungan dan kesejahteraan hidup seseorang.

Beberapa tips berguna dari Olesya Runova, yang merupakan ahli Feng Shui. Ubahlah energy positif dari rumah dan kantor Anda, maka kekayaan dan kesejahteraan akan menaungi Anda!

# Hal Pertama – tata letak

Rumah Anda harus bersih dan nyaman bila Anda ingin dipenuhi oleh keberuntungan dan kemakmuran

Anda harus membersihkan ruangan di rumah maupun kantor Anda dari hal-hal yang tidak diperlukan ataupun dari barang – barang yang sudah rusak. Hal tersebut bisa menghalangi keberuntungan dan merusak energi positif dari uang
Menjaga supaya tempat kerja Anda selalu bersih dan rapi juga penting untuk bisa menambah keberuntungan Anda

# Arah tenggara – merupakan area kemakmuran

Berdasarkan ilmu Feng Shui, setiap zona dirumah atau kantor anda merupakan salah satu kunci dari sebuah bidang kehidupan.Uang diwakili oleh arah Tenggara.

Anda bisa meletakkan atau memajang simbol keberuntungan keuangan di arah Tenggara, contohnya foto atau gambar sebuah pabrik, air mancur, atau musim semi.


Simbol kekayaan yang paling terkenal di dunia Feng Shui adalah pohon uang. Ilmu Feng Shui percaya bahwa pohon-pohon uang adalah tanaman dengan daun bulat atau daun-daun berbentuk hati, bisa juga tanaman dengan daun yang tebal lembek. Anda juga dapat meletakkan sebuah pohon uang buatan dari batu-batu, mineral, atau koin di zona Tenggara pada rumah atau kantor Anda.

Sebuah hiasan kapal kecil yang diletakkan menghadap ke arah yang tepat dipercaya bisa membawa aliran kekayaan kepada pemiliknya, terutama bila terdapat simbol koin pada hiasan kapal tersebut. Kuncinya adalah hiasan kapal tersebut harus mengarah dan menuju kepada jutawan masa depan (yaitu Anda) dan “ seolah – olah berlayar“ dari pintu masuk.
   
# Undanglah uang supaya masuk ke rumah Anda

Menurut Feng Shui, pintu masuk juga memainkan peran penting dalam menarik kemakmuran. Jika halaman anda redup dan tidak ramah, maka dipercaya uang tidak akan masuk. Pastikan ruang anda terang menyala dan pastikan tidak ada hal-hal atau barang – brang yang menumpuk di depan pintu masuk rumah atau kantor Anda.


Menurut ilmu Fengshui, sebaiknya Anda tidak menggantung atau memajang cermin di rumah maupun kantor Anda menghadap ke arah pintu masuk. Feng Shui percaya cermin yang menghadap ke pintu masuk akan menghalagi semua kemakmuran yang ingin masuk ke arah Anda

Anda lebih baik menggantung simbol-simbol kekayaan didepan atau disamping pintu masuk utama rumah maupun kantor Anda. Anda bisa memajang atau menaruh simbol kekayaan berupa mangkok besar berisi buah – buahan atau perhiasan
   
# Wewangian untuk menarik uang keberuntungan

Uang dapat ditarik masuk ke rumah maupun ke kantor Anda lewat wewangian
Anda bisa menempatkan sebuah pot berisi salah satu aroma berikut di meja Anda :
• anggrek – aroma untuk stabilitas keuangan
• nilam – aroma untuk membuka saluran energi uang
• pinus – aroma untuk konsistensi dan stabilitas, soliditas keuangan
• kayu cemara – aroma untuk membantu menarik uang
• jahe – aroma untuk memberikan jalan kekayaan
• jeruk – aroma untuk menarik uang keberuntungan
• cengkeh – aroma untuk membawa kekayaan dan kemakmuran
• melati – aroma untuk menarik kesuksesan keuangan


Kesimpulannya,bahwa Feng Shui bukanlah sekedar mitos atau tongkat sihir. Ilmu Feng Shui bisa membantu orang untuk mencapai kesuksesan dan kemakmuran. Anda bisa mengambil tips dan juga pengetahuan mengenai ilmu Feng Shui yang dipercaya bisa mendatangkan kekayaan dan kesejahteraan bagi Anda. 

Akan tetapi kita harus tetap ingat dengan kuasa Tuhan Yang Maha Esa dengan suratan nasib dan takdir yang di telah tentukan terhadap semua mahluk di dunia ini.
 
Semoga tips dan motivasi ini berguna,Wallahu A'lam Bishawab.

Source : FBS
Tag : , ,

Thursday, 26 May 2016

Gandum dan Ilalang

Gandum dan Ilalang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Gandum dan Ilalang adalah dua tanaman yang sangat mirip, tetapi sebenar-nya sangat berbeda. Gandum adalah makanan pokok yang sangat berguna bagi manusia, sedangkan lalang sama sekali tidak berguna. Bahkan lalang lebih banyak menyerap sari makanan dari tanah, sehingga mengganggu pertumbuhan gandum. Sayangnya lalang dan gandum baru dapat dibedakan ketika bulir-bulir-nya ke-luar. Dan, lalang yang dicabut sebelum waktunya bisa membuat gandum turut tercabut.
Satu-satunya cara memisahkan Ilalang dan Gandum adalah dengan menunggunya sampai saat menuai tiba. Seumpama lalang dan gandum, begitulah orang jahat tetap dibiarkan hidup di dunia ini bersama orang baik, meski mereka membawa penderitaan bagi orang-orang baik. Alam ini akan memperlakukan sama pada seluruh ciptaan-Nya, baik yang berbuat jahat atau yang berbuat baik. Dia masih memberi kesempatan kepada yang jahat supaya bertobat dan bisa memperoleh Kesadaran, juga memberi kesempatan kepada yang baik untuk terus bertumbuh dan Berguna .
Justru dengan adanya ?Ilalang?, maka ?Gandum? ditantang untuk bisa tumbuh makin kuat, makin tahan uji, dan makin berkualitas.
Kita telah diajar untuk panjang sabar mengikuti filosofi Gandum dan Ilalang ini karena segala sesuatu ada waktunya;
Kita harus memberi kesempatan kepada se
... baca selengkapnya di Gandum dan Ilalang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Tag : ,

Saturday, 25 July 2015

Hachiko

Hachiko adalah seekor anjing yang lahir di sekitar bulan November 1923 di Odate, Jepang. Ia pindah ke Tokyo, saat majikannya pindah ke sana.

Pemilik anjing itu bernama Eisaburo Ueno. Eisaburo adalah seorang tua yang tinggal sendirian di rumahnya, istrinya sudah meninggal dan anak-anaknya sudah menikah dan tidak tinggal di situ lagi. Eisaburo Ueno bekerja di sebuah universitas di dekat Tokyo sebagai seorang profesor.

Sudah sebuah kebiasaan bagi orang tua itu untuk menaiki kereta listrik di Stasiun Shibuya untuk bekerja. Ia berangkat sekitar jam 8 pagi, dan biasanya ia pulang dan tiba di stasiun itu kembali sekitar jam 5 sore.

Hachiko, si anjing itu, sangat setia menemani tuannya. Setiap pagi ia berjalan bersama tuannya menuju ke Stasiun Shibuya. Setelah ‘melepas kepergian’ tuannya, anjing itu pulang sendiri ke rumah. Dan uniknya tepat sebelum jam 5 sore, anjing itu sudah datang kembali ke stasiun untuk menjemput tuannya.

Kebiasaan ini dilakukannya setiap hari selama beberapa tahun, dan orang-orang di sekitar situ sudah mulai hapal dengan tingkah anjing (dan pemiliknya) itu. Para petugas stasiun pun selalu tersenyum ramah saat melihat anjing itu berlari-lari kecil menjemput tuannya setiap sore.

Tapi malang, pada suatu siang, Eisaburo mendapatkan serangan jantung di universitas tempatnya bekerja. Ia meninggal sebelum mendapatkan perawatan medis dari rumah sakit. Segenap keluarganya langsung dihubungi oleh pihak universitas untuk menjemput jenazah Eisaburo.

Lalu bagaimana dengan anjing itu ? Ternyata, pada sore harinya anjing itu tetap datang ke stasiun untuk menjemput tuannya, tapi hingga larut malam ia menunggu, ternyata tuannya tidak datang. Anjing itu pulang kembali ke rumah.

Besok sorenya, anjing itu kembali datang ke Stasiun - dan sekali lagi - ia pulang dengan ‘tangan hampa’. Kebiasaan ini ia lakukan setiap hari. Para petugas stasiun dan orang-orang di situ sangat bersimpati dan kadangkala memberinya makan saat ‘menjemput tuannya’.

Beberapa kerabat Eisaburo pun sebenarnya sudah berusaha untuk memelihara dan merawat anjing itu, tetapi tetap saja - setiap sore anjing itu nekat berlari menuju ke stasiun Shibuya.

Tak terasa 11 tahun sudah berlalu, dan anjing itu tetap melakukan aktivitas hariannya menunggu tuannya di stasiun tiap sore - hingga larut malam, bahkan kadang baru pulang besok paginya setelah pulas tertidur di stasiun.

Setelah berumur 15 tahun, anjing itu akhirnya meninggal dunia dalam kesetiaannya, tepat di tempat dimana ia biasa menunggu tuannya.

Untuk memuji dan menghargai kesetiaan anjing itu, orang-orang membangun sebuah patung Hachiko di Stasiun Shibuya. Patung anjing itu masih berdiri kokoh hingga saat ini, sebagai sebuah inspirasi kesetiaan bagi orang-orang yang melewatinya.

http://goo.gl/Rwuido


Kotak Cinta Untuk Ibu
Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter
With me everything is ok
Mother, how are you today?
Mother, don’t worry, I’m fine
Promise to see you this summer
This time there will be no delay
Mother, how are you today?

***

Hari-hariku di kampus di penuhi dengan kegiatan di orgamawa. Ditambah dengan jadwalku memberi les. Semua terasa berat, ingin rasanya aku memiliki satu hari yang khusus dihadiahkan untukku. Agar aku bisa beristirahat. Sedikit menghirup udara segar dan terbebas dari rutinitas dunia kampus. Aku adalah mahasiswi kos di dekat kampus. Rumahku yang jauh membuatku selalu rindu dengan kedua orang tuaku. Terutama ibu. Kini, aku belajar mengatur rumah kecil, dapur dan keuanganku.

Otak seperti dikuras habis untuk memikirkan kuliyah, organisasi, les, kebutuhan, tugas dan seabrek catatan-catatan hidupku yang harus aku pikirkan. Seolah-olah, otak ini sudah mendidih. Layaknya satan kelapa, yang masih saja dipaksa diambil santannya. Seperti aku yang selalu memaksa otakku untuk terus berpikir dan berpikir. Bagaimana hidupku terus berjalan dan maju ke depan.

Rasa capek dan bosan sering membuat sikap malas menghinggapiku. Tapi, aku selalu mencoba menepisnya. Aku tak ingin perjuangan orang tuaku di desa dengan bekerja keras sia-sia hanya karena sikap malasku. Aku ingin kuliah dengan benar, dan sungguh-sungguh. Aku tak ingin mengecewakan mereka.

Aku lantas beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Aku sambar handuk diatas kasur, dan dengan menarik napas dalam-dalam aku berkata. “Aku harus semangat..! Kamu tidak boleh malas, Nay.” Kataku sendiri mencoba untuk menyemangati.

Aku buka buku yang terlihat besar dan lebih lebar dari bukuku yang lain. Aku mencoba melihat pekerjaanku kemarin. “Huft…, apanya yang salah, ya?!” Tanyaku yang bingung sekali. Beginilah pekerjaanku sebelum hari rabu tiba. Mengerjakan tugasku akuntansi. Karena aku mengambil prodi akuntansi, mau tidak mau aku harus bergelut dengan angka-ngka yang aku sendiri tak tahu. Berapa jumlah uang sebenarnya.

Aku terkadang berfikir, bagaimana jika pekerjaan akuntansi yang aku kerjakan ini benar-benar ada uangnya. Niscaya aku akan bingung bukan kepalang. Menghitung perhitungannya saja aku terkadang kebingungan. Belum lagi saldo yang tidak balance. Apalagi ditambah menghitung uangnya. Pasti aku akan kebingungan.

Meskipun begitu, Akuntansi adalah mata pelajaran yang aku sukai ketika aku masih di SMK. Oleh karena itu, aku ingin melanjutkan pengetahuanku mengenai akuntansi di jenjang perguruan tinggi ini. Aku merasakan kesenangan tersendiri dengan kumpulan angka-angka yang menarik itu. Perhitungannya jelas. Rumus-rumusnya juga jelas. Misalnya, saat kita membeli suatu mesin. Tenti saja, kalau kita ingin membeli sesuatu barang, maka uang kita akan berkurang (Termasuk asset lancar yaitu kas). Dan kita akan mempunyai mesin baru yang biasa di sebet asset (Asset yang bertambah yaitu asset tetap, mesin).

Mudah sekali mempelajari akuntansi. Saat kita mengerjakan, anggap saja perusahaan itu adalah milik kita. Dan saat mengerjakannya, anggap pula kita sedang mengerjakan laporan perusahaan kita sendiri. Dengan begitu, belajar akan lebih menyenangkan. Jika kamu mendapati ketidakseimbangan pada saldonya, lebih baik lanjutkan pekerjaannya esok hari. Sungguh, aku akan malas untuk melanjutkan pekerjaanku jika saldonya tidak balance. Bukan bermaksud menunda-nunda. Tapi aku ingin mengistirahatkan pikiran. Berharap, esok pikiranku akan segar kembali. Dan bisa meneliti pekerjaaanku.

Salah satu kelemahanku adalah, kurangnya ketelitian dan kecermatan dalam mengerjakannya. Meskipun aku memahami materinya, kecermatan sangat penting dalam mengerjakannya. Mataku pun sudah mulai membengkak karena kelelahan aku ajak begadang. “Lebih baik, aku selesaikan besok malam saja.” Kataku sambil menutup buku. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas ranjang.

“Nay, saldonya berapa?” Tanya Rini. “Aku belum selesai, Rin.” Jawabku setelah menyedot es teh yang ada dalam gelas plastik. “Ngapain sih, rame-rame?” Tanya Nana. “Na, saldo soal akuntansinya Bu Priska berapa?” Tanya Rini. Ia adalah temanku yang kurang begitu paham dengan pelajaran akuntansi. Tapi aku salut dengan semangatnya. Ia selalu bertanya padaku, jika ia selesai mengerjakannya. Berusaha untuk mencocokkan, dan jika jawabannya berbeda dan salah. Ia akan segera membenahinya.

Pernah suatu kali, ia datang pagi-pagi ke kosku untuk mencocokkan pekerjaannya yang salah. Sekarang ia tampak kebingungan sekali. Yang ngerti akuntansi saja belum selesai mengerjakannya. Aku bisa melihar raut wajah kepanikan dari sikapnya. “Jangankan mengerjakannya, soalnya saja aku tidak tahu…,” Jawab Nana dengan santai dan terlihat tanpa beban. Tapi, mereka adalah teman-teman yang selalu memberiku semangat. Teman-teman yang selalu membuatku tersenyum. Mengobati kerinduanku terhadap ibu dan bapak.

Usai mengerjakan soal akuntansi, aku membereskan buku-buku di rak yang berantakan. Akupun memasukkannya ke dalam kardus agar rakku tidak penuh dengan buku. Tiba-tiba aku menemukan kotak berwarna cokelat. Aku ingat, ini adalah kotak kue yang dulu pernah aku berikan untuk ibuku. Tepat di hari ibu dan di hari ulang tahun ibuku. Aku langsung menuju kalender yang menempel di dinding kamarku. Mataku terus berjalan mencari bulan, kemudian mencari hari. Mataku pun kemudian berjalan menuju Kotak yang bertuliskan angka. Tampak angka 12. Kurang sepuluh hari adalah hari ibu dan tepat ulang tahu ibuku.

Aku kemudian duduk di atas kasur. Aku terus mengamati kotak kue dari kardus itu. Aku sengaja menghias kotak itu dengan kertas dan daun kering, agar terlihat cantik dan menarik. Seperti membuat herbarium, waktu aku masih SMP dulu. Tugas biologi mengeringkan daun atau mengawetkannya. Aku menata daun-daun kering itu dan menempelkannya pada kardus. Sangat cantik dan cukup mebuat ibuku tersenyum senang dan bahagia. “Ingin sekali aku melihat senyum dan kebahagiaan itu kembali dari raut wajahnnya.” Kataku yang mulai sedih terbawa suasanya.

Aku sudah lama tidak pulang ke rumah. Tugasku memberi les dan kegiatan di organisasi cukup membuatku kualahan. Antara tanggungjawab dan kerinduan teramat dalam pada kampung halaman. ‘Aku ingin pulang, ibu.., bapak..,’ Teriakku tertahan. Aku peluk kotak itu erat-erat. Kotak cinta untuk ibu yang mungkin akan aku buat lagi di tahun ini. Kotak Cinta yang selalu aku buat khusus untuk ibuku. Di hari ibu dan dihari ulang tahunnya.

Malam minggu ini, langit begitu cerah. Ramai dengan bintang bertebaran di langit. Hamparan luas bintang terasa kurang lengkap tanpa hadirnya bulan. Seperti kehidupanku. Banyak teman disekelilingku, tapi kehadiran ibukulah yang paling berharga dalam hidupku. Membuat hidupku jauh lebih lengkap. Angin malam menerpa kulitku, terasa dingin hingga menusuk tulang. Seketika bulu-bulu di kaki dan tanganku langsung berdiri, meski berbalutkan jaket dan rok panjang. Aku lantas menarik resleting jaketku ke atas. Agar dinginnya angin malam tidak mengusikku.

Aku mulai berpikir untuk memberikan sesuatu yang berkesan di hati ibuku. Momen yang aku nanti-nantikan. Aku ingin memberikan kotak cinta itu untuk ibu. “Kira-kira, aku ingin mengisi kotak itu dengan apa, ya?” pikirku. “Nay, ngelamun apa, sih?” Tanya Rini. “Ah.., tidak, Rin. Aku tidak melamun, kok.” Jawabku. Dibilang kaget, aku jawabnya juga santai. Dibilang tidak kaget, masih mikir juga untuk menjawab pertanyaan Rini.

“Sabtu depan pulang, kan?” Tanya Rini. “InsyaAllah.., semoga di kampus tidak ada acara dan kegiatan. Aku ingin pulang, Rin. Aku kangen ibu dan bapak. Terutama Nila adikku. Sudah lama aku tidak pulang dan berkumpul mereka.” Kataku berbagi beban di pundak ini pada sahabatku. “Aku tahu, Nay. Kalau kamu mau, kamu pakai saja uangku dulu untuk pulang.” Rini menawarkan bantuan. “Tidak usah, Rin. Kamu kan juga butuh uang untuk pulang.” Aku berusaha menolaknya. “Tidak apa-apa, Nay. Aku sabtu depan ada acara di kampus. Jadi, aku tidak pulang.” Rini menjelaskan.

Aku pun terdiam sejenak untuk memikirkan tawaran Rini. Antara senang dan perasaan tidak enak pada Rini. Senang karena aku bisa pulang dan bertemu dengan ibu, bapak, dan Nila. Tapi, Rini sudah terlalu banyak menolongku. “Bagaimana, Nay?” Tanya Rini kembali, meminta kepastianku. “Iya, Rin.” Aku pun menerima bantuan itu. Karena aku ingin sekali bertemu dengan ibu.

Hari ini, aku pulang dengan hati yang berkecamuk perasaan sedih. Mukaku terlihat nanar, dan air mata sudah mengumpul di ujung mata. Aku tak bisa pulang sabtu depan. Ada kegiatan organisasi yang harus aku selesaikan. Penggalangan dana untuk saudara-saudara yang sedang tertimpa masalah di Gaza, akan diadakan sabtu depan. Dengan perasaan sedih, aku harus mengikhlaskan.

Aku sebagai penanggung jawab, tidak mungkin lari begitu saja. Dimana integritasku jika aku pergi meninggalkan tanggungjawab itu? Dimana, Nay. Aku mengambil kotak cinta itu. “Ibu, Selimut ini tidak akan datang di hari ulang tahun ibu.” Aku memandangi kotak yang berisikan selimut berwarna biru. Aku ingin ia menemani malam-malamnya. Aku ingin kehangatan melindungi tubuhnya. Aku ingin selalu ada di dalam mimpi-mimpinya.

Aku tutup kembali kotak itu, dan kusimpan kembali dalam lemari. “Apa itu, Nay?” Tanya Rini, heran terhadap kotak itu. “Ini hadiah ulang tahun ibuku” Jawabku dengan nada parau. “Aku tahu, kamu tidak bisa pulang sabtu depan. Kamu sabar, ya..!” Rini menepuk bahuku. “Iya..” Jawabku dengan senyum yang sedikit aku paksakan.

Usai melakukan penggalangan dana, aku langsung pulang. Dari pagi, aku dan teman-teman sudah terjun di jalannan. Membagi-bagikan bendera dan brosur, di tengah terik matahari yang cukup panas. Kepalaku pusing, akibat terlalu lama berada di bawah terik matahari. Kakiku terasa sakit dan memerah. Kakiku juga melepuh dan berair. Karena tadi siang aku lupa memakai kaos kaki. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas ranjang.

Aku merasakan timangan kasur nan empuk di kamarku. Perlahan-lahan, diriku dibawa terbang ke awan. Menyusuri pulau nan indah bersama ibuku. Kami sekeluarga terlihat gembira dan begitu menikmati. Aku melihat senyum yang begitu natural, senyum yang terpancar dari hati. Sesuatu yang ibu ekspresikan dengan tulus. Aku begitu senang melihat ibu bahagia. “Buatlah ibu bangga, Nay. Jangan biarkan orang lain merendahkan dan meremehkan kita. Aku yakin kamu pasti bisa membuat ibu tetawa dan bahagia lebih dari hari ini.” Kata ibu memegang telapak tanganku. Tangannya begitu hangat.

Aku hanya memandang senyum yang masih merekah dari kedua bibir ibuku. Tatapanku penuh tanya, dan otakku terus berpikir. Bukankah aku melihat tawa yang begitu lepas. Tapi ibu menginginkan kebahagian yang lebih dari hari ini. ‘Aku memang belum bisa membahagiakanmu, Bu. Engkau selalu berbohong dibalik senyummu. Seolah-olah, engkau sudah merasa bahagia dengan apa yang ada. Tapi, kebohongan yang engkau sembunyikan terlihat nyata. Engkau selalu merasa gembira, untuk menyembunyikan kesedihan. Engkau merasa sehat dengan menyembunyikan sakitmu. Aku ingin engkau bahagia, lebih dari hari ini, hari esok, dan hari esoknya lagi.’ Kata hatiku.

Aku akan membahagiakanmu selamanya, bu. Ingin sekali senyum itu nyata dari hatimu, tanpa ada yang engkau sembunyikan. Perlahan-lahan genggaman ibu merosot dari genggamanku. Aku merasa kebingungan, dan mencoba menahannya. Tapi, ujung jariku sudah menyentuk kukunya. Dan tiba-tiba tangan ini sudah tak menggenggam tangannya lagi. “Ibu….,!” Teriakku terkejut. Aku mencoba mengatur nafas dan mencoba memasuki duniaku yang sebenarnya. Lelah dan kerinduan telah mengantarkanku pada mimpi bertemu dengan ibu. Dan kotak itu secara tiba-tiba melintas di dalam pikiranku dan hinggap di sana.

Hari ini, bulan terlihat diantara bintang-bintang. “Andaikan aku ada disamping ibu, aku akan sangat bahagia.” Kataku sambil memandangi langit. Aku buka kotak yang ada di pangkuanku. Ternyata, selimut ini tak bisa menghangatkan malamnya hari ini. Hari ulang tahunnya, dan hari ibu. Bagiku, hari ibu ada di setiap hari dalam hidupku. Seperti hari-hari yang selalu ada do’a untuku, anaknya.

Aku menarik selembar kertas dari bukuku. Tanganku dengan lincah menari-nari di atas kertas itu, merangkai kata-kata. Padahal aku bukan seorang pujangga. Tak perlu menjadi seorang pujangngga. Hanya karena cinta, kata-kata indah akan tercipta dengan sendirinya. Meskipun kata-kata cinta untuk ibu tidak seindah kata-kata cinta kahlil gibran, dan tak seindah syair-syair Chairil anwar. Aku yakin, ibu bisa merasakan betapa aku sangat mencintainya.

“Aku berjanji, Bu. Meski ibu mengucapkannya dalam mimpi. Aku yakin, itu adalah apa yang selama ini ibu harapkan. Apa yang selama ini ibu tunggu-tunggu. Aku akan membuat ibu bahagia. Lebih dari hari ini dan hari selanjutnya. Selimut ini akan menghangatkan malam-malam ibu. Jika Nayla pulang nanti, bawalah ia untuk menemani tidurmu, Bu. Hanya ini yang bisa Nayla berikan. Tak sebanding dengan kehangatan cinta ibu yang selalu menghangatkanku.” Aku menitikkan air mata, dan jatuh dalam kotak itu.

Air mataku semakin mengalir deras. Mengingat perjuangan, kasih sayang dan cintanya selama ini. Sekelebat kenanga-kenangan bersama ibu secara bergantian melintas di hadapanku. Seperti diputarnya film yang dipertontonkan untukku. Tapi sayang, air mata yang menetes banyak di dalam kotak tak akan meninggalkan bekas. Andaikan ia bisa berubah menjadi kristal putih nan cantik, pancarkan keindahan seperti kasih sayangnya selama ini. Aku akan menyertakannya di dalam kotak itu dan menghadiahkannya untuk ibu.

Tapi, air mataku tak bisa kusulap menjadi butiran kristal. Hanya ada selimut berwarna biru di dalam kotak. Kotak cinta yang akan aku persembahkan untuk ibuku saat aku pulang nanti. Hanya itu yang bisa aku berikan. Uang dari honor menulis cerpenku. Cerpen yang baru pertama kali diterima oleh redaksi. Untukmu,Bu.., untukmu.

“Tunggulah sampai anakmu pulang, Bu. Nayla di sini baik-baik saja. Semoga ibu dapat tersenyum untuk selamanya. Nayla berjanji, Bu.” Aku menghapus air mataku. Aku harus semangat, semangat!

Aku menutup kotak itu dan kubawa kedalam kamar. Aku memasukkannya dalam lemari. “Tinggallah di sini sementara, kotakku. Sebentar lagi engkau akan bertemu dengan ibu. Aku tahu, engkau pasti tidak sabar bertemu dengan ibu.” Aku kemudian mengambil hp yang ada di tasku, hp lama pemberian dari keponakan ibu. Tak apalah, dengan hp ini aku bisa mendengarkan lagu ‘Mother How Are You Today’. Setidaknya, lagu ini bisa menjadi penenang jiwaku. Lagu yang ingin aku sampaikan pada ibu. “Tunggu aku pulang, Bu. Aku sangat mencintaimu” Kataku dengan tersenyum di balik kerinduan yang teramat dalam.

http://goo.gl/Ag1L6i
Tag : , ,

Friday, 5 June 2015

Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang Koruptor

Dua lelaki berpakaian coklat tua mengapit lelaki separuh baya menuju kamar tidur berkuota 5 orang tetapi sesak di jejali penghuni tiga kali lebih banyak dari kapasitas standar sebenarnya, saat salah satu dari lelaki berseragam membuka grendel-grendel pengaman yang mengamankan penghuni kamar, kepala lelaki setengah baya itu tegak, menoleh ke arah ruangan di sudut deret bangunan tempat aku berdiri, tersenyum lalu menganggukkan kepala kepadaku sebelum menghilang di balik jeruji.

Segurat senyum menghiasi sudut wajahku membalas senyuman dari lelaki itu, tapi aku tahu dia tidak melihatnya, karena serombongan lelaki berpakaian coklat melintas di antara jangkauan pandang kami memecah situasi melodrama yang bila di telenovela korea biasanya dapat jatah scene 10 detikan lebih karena di slow motion dan sudut pengambilan sudut gambar bisa lebih dari 8 titik. Karena moment itu sungguh berkesan, bermakna dan sarat penafsiran.

“Ayah, aku bangga padamu.” Hanya kata itu yang mampu menggumam di bibirku mewakili gejolak yang muncul sporadis.

Aku membalikkan badan, karena sosok yang tadi tersenyum dan tak lain adalah ayahku sendiri tersebut sudah tidak terlihat karena blok tahanan tertutup gelapnya bayangan dinding tinggi lembaga permasyarakatan. Aku berjalan keluar, mengarah ke gerbang besar pembatas bui dengan dunia luar, dunia kita, dunia kebebasan.

Segerombolan pewarta menyambutku, beberapa ku kenal baik, beberapa lagi baru pertama ku lihat termasuk 3 lelaki yang membawa kamera plus microphone berlabel televisi.

“Apa langkah keluarga besar anda menyikapi pengakuan mengejutkan di persidangan tadi..?”
serbuan pertanyaan di mulai..
“apakah ada bocoran mengenai siapa saja yang terlibat?”
“Bagaimana bila massa pendukung dari orang-orang yang di sebutkan namanya itu tidak terima..?”
“Seandainya..”
“Apabila…”
“…”

Aku tak menjawab, hanya tersenyum dan terus berjalan menerobos kerumunan yang haus informasi itu menuju vespa tua satu-satunya sisa dari kekayaan orang tuaku yang tidak ikut di sita KPK, entah karena mereka menilai secara taksiran vespa uzur ini tidak layak dan tidak punya nilai jual atau mereka tahu sejarah keberadaan vespa itu yang di era awal reformasi mengawal sepak terjang aktivis terkenal yang kini tersandung.

***

Aku masih ingat sekali, saat ayah menghilang selama 2 minggu sebelum presiden yang ku anggap tidak akan pernah terganti itu lengser, aku masih es-em-pe saat itu. Dua hari setelah gedung kura-kura raksasa hijau di senayan sepi dan lepas dari pendudukan pemuda dan mahasiswa ayah kembali. Kepalanya berbalut perban dan wajahnya terlihat lelah dengan memar di sana-sini. Aku berlari memeluknya saat sosok lusuh itu muncul di depan pintu rumah.

“Ayah tidak apa-apa?” serbuku di sela tangis

Dia tersenyum dan berkata “Jangan cengeng.. inilah resiko dari perjuangan, ayah mau makan dan bersih-bersih dulu, tolong panas-kan vespa ayah, masih banyak yang harus ayah kerjakan.”

Ayah melepaskan pelukannya sembari melanjutkan,

“kalau om Subur datang, suruh tunggu dan suruh ibumu buatkan kopi.” Ayah langsung berlalu ke ruang dalam di sambut histeris dan ledakan tangis ibu. Aku termangu di tempat ku berdiri merasakan sensasi haru sekaligus bangga yang begitu berbeda.

Vespa ini intim mengawal ayah, di awal-awal sepak terjangnya di dunia kami yang baru. Vespa ini kemana-mana membawa pesan-pesan pergerakan dan niat mulia membenahi republik ini. Ayah dan vespanya adalah legenda sebuah perjuangan politik mazhab reformasi yang kemudian bertransformasi menjadi kenyataan sekarang ini.

Selain vespa, ada satu sosok lagi yang ikut berperan, sosok itu adalah om Subur, lelaki yang biasa ku buatkan kopi kental, sosok ambisius dan guru politik serta starter pergerakan di mana ayah menjadi salah satu pilar.

“akan jalan di tempat dan bahkan berhenti di sini bila agenda ini tidak dilanjutkan, kawan-kawan di Jakarta berencana masuk ke parlemen, berada di luar sistem tidak banyak kontribusi positifnya bagi perubahan yang kita perjuangkan, berakhirnya orde baru hanya awal, pemilu di depan mata, orang-orang pergerakan harus masuk ke sistem agar maksimal.” Sayup-sayup suara bersemangat om Subur menyentuh gendang telingaku yang sedang belajar di kamar tidur, beberapa bulan setelah itu

Aku menghentikan aktifitas dan ikut mendengarkan diam-diam obrolan om Subur, Ayah, dan beberapa temannya di ruang tamu.

“Drafnya sudah siap, orang-orang kita pun sudah setuju kita bergabung ke partai ini, pembentukan DPD tinggal menunggu hari, kamu di butuhkan di sini.” Seorang lagi bersuara.

“Sebagai apa? Dan seberapa efektif peran saya di dalam?” Ayah bersuara

“Sebagai Ketua, kami teman-teman mahasiswa mendukung, karena itu kami ke sini.”

“Tidak adakah jalan lain selain masuk ke sistem?” ayah bertanya ragu

“Inilah kesempatan kita untuk berbuat, bukan hanya sebagai penyuara dan pengkritik sistem dan koar-koar di media dan di setiap aksi, berharap ini itu, tapi relevansinya apa? suara kita di tampung saja, tidak ada perubahan, sistem dan birokrasi mengganjal setiap keputusan. Kita akan semakin tua kawan, kita tidak bisa bergerak dari satu aksi ke aksi, tindakan nyata harus di ambil, dari pada kita yang meminta keputusan lebik baik kita yang membuat keputusan. Dan sarana menuju ke sana telah siap dan matang.”
 
 
Lama suasana hening, sebuah kalimat menghentikan diskusi

“Baik, beri saya waktu 2 hari utuk memikirkannya.”

Dan semuanya pun di mulai. Mendapatkan suara terbanyak di pemilu legislatif pertama era reformasi mengantarkan Ayah menduduki posis teratas di jajaran legislatif kota tempat ku di besarkan.

Om Subur tidak seberuntung ayahku, mandek di legislatif dia mengambil langkah startegis menembus eksekutif. Benturan hebat di lingkaran lama mendorong nya bersama beberapa kologa sejawat menerapkan kesempatan yang diberikan undang-undang otonomi dengan membentuk daerah tingkat dua baru. Kabupatenku ini. Ayahku juga terlibat dengan kapasitas dan kemampuan aksesnya di tingkat lobi dan pansus pemekaran.

Aku kembali ingat saat om Subur berkata di suatu malam.

“Satu-satunya jalan agar korupsi dan birokrasi njelimet di negeri ini musnah adalah menghentikan segala bentuk gratifikasi, termasuk pungutan saat masuk CPNS, nota fiktif, dan fee-fee proyek di cut off sejak awal, tradisi sehat itu mesti di mulai, dan itu harus bersumber dari pemegang kekuasaan. Pemimpin. Aku menginginkan posisi itu. Karena itu visiku. Kau, dukung aku di dewan.” Singkat padat jelas langsung menohok, serbu om Subur.

Aku tidak mendengar jawaban dari ayahku. Hanya desah nafas panjang tanpa iya dan tidak. Aku mengartikan itu adalah iya.

Dan dugaanku benar adanya, sepak terjang kedua partner itu semakin menggila. Dalam proses nya bukan hanya terjadi pergeseran prinsip dan pandangan, lebih jauh makin mengarah kepada Transkulturasi paradigma dalam pelaksanaannya, aku melihat ayah sedikit tidak nyaman dalam pelaksanaan karena sering terjadi friksi antara kebijakan dan pandangan, terutama bila dikaitkan dengan nurani.

“Inilah konsekwensi sebuah perang kawan, selalu ada korban. Seorang Mao Tze Dong mengorbankan ratusan ribu rakyat China lama untuk membentuk China baru, China yang sekarang, China yang gemilang. Kita tidak mesti mengorbankan sesuatu yang se-ekstrim itu, hanya sedikit mengesampingkan pandangan politik pribadi demi kepentingan yang lebih besar bijak dibutuhkan dalam masa transisi ini.”

“Tapi prinsip yang satu itu yang membawa kita hingga ke level ini, cita-cita pergerakan menghapus semua tradisi korupsi, kolusi dan nepotisme. KA-KA-EN, tiga huruf itulah yang menjadi akar dari gerakan reformasi, amanat itu masih menjadi acuan, bukan malah meleburkan diri”. Sanggah ayah.

“Dengan bertahan dengan prinsip itu, kita tidak akan pernah keluar dari kotak, apa yang dapat kita lakukan bila pemerintah pusat meng-anaktiri-kan kita, kabupaten kita. Tangga birokrasi hingga ke kementerian memaksa kita mengikuti tradisi ini. Bukan berarti kita sependapat, namun keluar dari jalur terlalu ekstrim akan melemparkan kita keluar dari jalan besar, kita sedang membangun daerah ini. Berikan apa yang semestinya masyarakat dapatkan, masyarakat butuh pembangunan di segala sektor, dan itu butuh biaya besar, untuk sementara kita hanya bisa mengandalkan pos-pos anggaran dari pusat, bila tidak kita ambil, kita akan tertinggal. Idealis boleh-boleh saja, tapi jangan lupakan ada perut yang juga mesti di isi makanan, dan masyarakat kita juga berperut, dari petani, buruh, pegawai, semuanya berperut. Dan sejatinya perut merekalah yang kita fikirkan, kita perjuangkan.”

“Juga perut penyokong mu, kuperhatikan perutnya jauh lebih besar dari perut rakyat-rakyat jelata-mu”. Nada sindiran tergambar jelas dari suara ayah.

“Naif kau berkata begitu, jangan lupakan kuasanya lah yang menyelamatkan kau dahulu, hingga kau masih bernapas dan tidak tinggal nama seperti rekan-rekan kita yang lain”.

“Mereka berkorban untuk apa yang mereka perjuangkan, apa yang mereka dan kita yakini, ingin aku berada di antara salah satu dari mereka”. desis ayah

“Tidak cukup hanya dengan menjadi martir, era itu telah habis, buka matamu, perjuangan kita jauh lebih berat saat ini, itu faktanya, kita sudah coba dengan berada di luar, tidak banyak membantu, sekarang kita sudah berada di dalam, cobalah untuk beradaptasi dan kita selesaikan apa yang sudah kita mulai, setidaknya sampai periode berikutnya, minimal kita berdua tau makna dari balas budi”.

“atau, kosakata itu sudah tidak ada lagi di kamusmu?” lanjut om Subur
“balas budi?”

“ya, kecuali kau bukan laki-laki!”.

Ayah selalu terdiam dengan dasar-dasar logika sosial om Subur. Begitupun kali ini. Lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya menjawab.
“Baiklah, kuikuti maumu. Sekali lagi setelah banyak kali yang kuikuti, terserah kau bilang ini idealis, tapi pada dasarnya ini adalah prinsip!, prinsip yang membuat kau dan aku bisa berada di tataran ini. Muak aku mengikuti kehendak politikus-politikus itu, karena kau yang meminta, sekali lagi aku pasang dada. Dan hutang budi itu lunas!”

Ku dengar om Subur tertawa, “Apa kau lupa kalau engkaupun sekarang seorang politikus? Di mana bumi di pijak di situ langit di junjung kawan, ha ha.. sudahlah, aku atur semuanya besok, tiap paket ke komisi dan banggar kuserahkan kepadamu, mekanismenya bagaimana ku kembalikan kepadamu, aku tau kau punya cara sendiri mengalokasikannya bagaimana.. Aku pamit dulu. Salam ke orang rumahmu dan si Derto”.

***

Gedung pengadilan itu masih ramai, aku tidak berhenti hanya melewatinya, sekelompok kecil massa yang di luar gedung melihat ke arah vespa dan menyadari siapa penunggangnya, beberapa berteriak selebihnya mengumpat, namun tak ku gubris, tangan kiriku menurunkan perseneling sehingga suara mesin mendengung kaget sebelum menderu dengan kecepatan lebih.

Di depanku berdiri rumah mewah bergaya mediterania dengan pilar-pilar besar menopang struktur bangunan 3 lantai di atasnya. Itu rumah Om Subur, lengkapnya plus title H.M. Subur Abadi SH.MM, Bupati terpilih Kabupaten Muara Baru. Rumah itu ramai, terutama setelah apa yang terjadi tadi di ruang pengadilan.

Ayah memilih membacakan sendiri hak yang diberikan hukum perundang-undangan negeri ini kepada seorang terdakwa sepertinya. Dalam pleidoi yang bisa dikatakan bukan merupakan suatu pembelaan, namun nyata sebuah pengakuan.

“Perang terhadap korupsi, kolusi dan Nepotisme adalah perang kita bersama, setiap langkah keputusan strategis dalam ruang ketata negaraan kita tidak lepas dari mekanisme struktural yang mengikat, baik dalam system kelembagaan maupun tradisi kelembagaan. Reformasi emosional yang tidak tersistem membawa banyak sisa-sisa persoalan, dalam melegitiminasi terkadang kita mesti mengikuti tradisi”.

“Saya Abdi Mahardika menyatakan bahwa hal yang di dakwakan kepada saya, tidak sepenuhnya benar, namun saya mengakui bahwa ada sejumlah paket dana yang di bagiakan oleh saya sendiri kepada sejumlah orang demi memuluskan pengesahan anggaran dan itu saya sadari hal tersebut tidak dapat dibenarkan secara hukum, apapun alasannya!”.

Ruang sidang bergemuruh, hakim ketua terpaksa menggebrak meja sidang dengan palunya untuk menenangkan massa.

“Saya hormati hak hukum yang diberikan kepada saya untuk membela diri, namun biarkan saya menunaikan kewajiban saya untuk bertanggung jawab kepada masyarakat atas amanah mereka yang saya lencengkan secara kesatria, inilah hutang budi saya yang sesungguhnya”. Ayah lantas menyebutkan beberapa nama.

Ruang sidang makin heboh, arah pengakuan tersebut sudah sangat jelas mencuil kekuasaan eksekutif dan lingkaran di sekitarnya. Ayah segera di amankan sementara massa kian beringas.

***

Dua hari yang lalu aku menjenguk ayah di tahanan, mengantarkan sambal taucho kesukaannya dan stok sigaret kretek buatan Surabaya satu slop.

“Derto, masih ingat apa yang almarhum kakekmu pesankan dulu saat kamu ketahuan mencuri telur bebek nya?”, Tanya ayah sambil menyalakan sebatang sigaret

“Hahaha.. ingat yah, waktu bulan puasa itu kan?”

“iya..”

“haha.. bagaimana bisa lupa. Kata per kata bahkan” Sahutku sambil tergelak, mengingat telur-telur malang tersebut aku barter dengan mercon cabe untuk dinyalakan waktu tarawih.

“Ayah ingin dengar setiap katanya dari mulutmu”. Pinta ayah sambil tersenyum.

“baiklah..” jawabku sambil pasang gaya menirukan kakek

“Derto, Lelaki itu bukan seseorang yang terus mencari perlawanan dan pembenaran atas apa yang dia lakukan, walaupun kesempatan akan pembenaran itu ada. Berani menyatakan diri salah dan meminta maaf jauh lebih terhormat dan lebih laki-laki..” aku terdiam di akhir kalimat mencoba menerka maksud di balik pertanyaan ayah tadi,

“maafkan ayah atas semuanya”. Ayah menatapku dalam, tampak bias air mata dalam tatapannya

“Dan izinkan ayah kembali menjadi laki-laki”.

***

Air Rambai, Akhir April 2013 04.45

“Malaikat pun dapat berubah menjadi iblis bila terlalu lama berada di dalam neraka”.

http://goo.gl/7OXGTO


Ada Apa Dengan Sikap Ayah
Malam itu sungguh hening, aku tak bisa menyembunyikan kemarahanku saat itu, aku mencoba berbaring di tempat tidur dan memeluk bantal gulingku, berharap emosiku akan hilang. dalam pikiranku saat itu aku hanya memikirkan sikap ayah yang sore tadi memarahiku hanya karena aku meminta uang padanya, karena aku ingin membeli baju baru yang tadi siang aku lihat di sebuah tokok ketika aku pulang sekolah. aku sangat menyukai baju itu. tapi ayah malah menasehatiku dan berkata “jangan terlalu boros dalam hal uang, dan cobalah untuk menabung”. aku sempat mengadukan hal ini kepada ibu, tapi rupanya respon ibu terhadapku sama sekali tidak aku inginkan, ya.. ibu saat itu berpihak kepada ayah. dan berkata “turuti saja apa kata ayahmu, karena itu untuk kebaikanmu juga”.

Waktu menunjukan jam 20. 00 wib, aku pun langsung menarik selimutku dan tidur.
Tepat pada pukul 6 pagi Matahari menyambutku pagi itu dengan cerah, tapi tidak dengan sikap ku pada ayah, pada saat itu aku masih marah terhadap ayah, tapi rupanya ayah seakan-akan tidak tahu tentang sikapku terhadapnya, entah dia berpura-pura tidak tahu atau… ah sudahlah aku sangat benci pada saat itu. aku langsung berpamitan pada ibu untuk berangkat sekolah.

Bel pulang pun berbunyi, karena tidak ada rencana apa-apa aku dan teman-temanku langsung pulang, ketika di perjalanan pulang lagi-lagi aku terbayang dengan baju kemarin di salah satu toko dekat sekolahku. dan ketika aku melewati toko itu ternyata baju yang aku inginkan itu masih ada dan belum terjual, aku sangat ingin membelinya pada saat itu tapi uangku tidak cukup untuk membeli baju itu.

Ketika tiba di rumah aku langsung menceritakan baju yang aku inginkan itu pada ibu, berharap ibu akan memberiku uang yang cukup untuk membeli baju itu, dan pada saat itu ibu sama sekali tidak peduli dan berkata. “baju mu masih banyak yang bagus, dan kalau mau minta uang untuk membeli baju mintalah pada ayah”. dengan wajah yang sangat marah aku pun pergi ke kamar dan langsung meninggalkan ibu yang pada saat itu mengomeliku”. ketika ayah pulang kerja aku menyambut ayah dengan senyuman manisku, dan rupaya ayah kelihatan heran dengan sikapku padanya, dan ayah pun langsung duduk di samping ibu yang pada saat itu sedang duduk di ruang tamu, akupun lagi-lagi menceritakan baju itu dan berharap ayah menuruti permintaanku, tapi dengan wajah yang kalem ayah berkata. “kamu selalu saja begitu nak, tidak pernah berubah, apa yang kamu inginkan seolah-olah ayah harus turuti”.
“Kenapa ayah sekarang sama saja seperti ibu tidak mau menuruti keinginanku, padahal dulu apa yang aku inginkan selalu kalian turuti tapi sekarang…” ayah memotong pembicaraanku dan berkata “dulu memang semua keinginanmu ayah dan ibu selalu turuti, tapi sekarang kau bukan lagi anak kecil kau sudah remaja nak, dan hal itu membuat ayah berpikir, kalau kau hanya ingin terus di suapi oleh kami kapan kau akan mandiiri.” ujar ayah dengan perkataannya yang sedikit membentak.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/hDUzRb

Tag : , , , ,

Thursday, 14 May 2015

Tak Seperti Dongeng ?Gadis Penjual Korek Api?


“Ada korek api?”

Gadis cilik itu terus berjalan sambil meminta sebuah korek api, namun tidak ada satu pun yang memberi. Tanpa alas kaki ia terus menelusuri jalan jalan ibu kota. Melihat tingginya gedung gedung cakrawala, mobil-mobil mewah yang tentunya pengemudinya punya cukup uang untuk membelikan gadis itu sebungkus korek api. Atau mereka punya banyak korek yang dihabiskannya dengan sebatang dua batang rokok. Mungkin pikir mereka, untuk apa memberi pada gadis itu? Detik ini dia minta korek api, menit kemudian selanjutnya dia minta roti, lalu meminta uang. Rasanya sayang memberikan seperak dua perak pada gadis lusuh dan dekil itu. Jangan memanjakan mereka!!! Seharusnya orang tua mereka yang bertanggung jawab mendidik mereka, bukan mengajarkannya berkeliaran di jalan. Banyak orang menyebutnya ‘pengemis’ atau ‘anak jalanan’.
Gadis itu pun tak putus asa, ia berjalan menghampiri beberapa orang pejalan kaki di trotoar. Menengadahkan tangannya.

“Permisi bu, boleh saya minta korek api?”

Wanita itu mengerutkan dahinya dan menatap gadis kecil dari atas – sudah berapa lama gadis kecil ini tidak membersihkan dirinya. Sangat sulit untuk menyisir rambutnya yang bergelombang dan kaku. Ia lalu membayangkan sapu ijuk di rumahnya – Pandangan wanita itu pelan-pelan melihat ke bawah, pakaian yang dikenakannya kusam dan terdapat robekan di beberapa bagian, kulit gadis cilik itu tak semulus kulitnya.

“Ada bu? Ada korek apinya?” Tanya gadis itu lagi.

Gadis kecil menatap penuh harap. Wanita itu masih mengerutkan dahinya lalu menggelengkan kepala. Gadis kecil mengucapkan terima kasih lalu melanjutkan perjalanannya. Sesekali ia mendongak ke atas dan melihat awan berarak mengikutinya. Lalu ia tersenyum. Mungkin sama seperti dongeng gadis penjual korek api, ia sama sama tidak mendapatkan uang dan makanan. Gadis kecil terus berjalan ke sebuah terminal. Mungkin pikirnya disana lebih banyak orang hilir mudik, berharap di antara banyaknya manusia yang jauh lebih beruntung darinya, ada satu orang yang mau memberikannya korek api. Gadis kecil itu menghampiri salah satu bus – saat itu penumpangnya beranjak turun dengan tergesa-gesa.

“Permisi pak, boleh saya minta korek api”

Bapak itu pun mengangkat tangannya dan berlalu pergi.

“Permisi bu…”

Belum ia melanjutkan kata-katanya si ibu sudah mengusirnya. Tubuh gadis kecil goyah dan hampir jatuh, kalau saja tidak ada seorang pemuda berdiri dibelakangnya. Pemuda itu sedikit bergeser dan hampir kehilangan keseimbangannya. Bukan karena tubuh gadis itu berat tapi mungkin karena ia lengah.

“Kamu tidak apa-apa?”

Gadis itu menganggukan kepalanya.

“Bener gak pa-pa?” tanyanya lagi meyakinkan.

Gadis itu tersenyum dan pergi. Ia duduk di pinggir trotoar, melihat banyak pedagang asongan di sepanjang terminal. Ada yang mejajakan aneka makanan dan minuman. Ia tak menghiraukan pemuda tadi terus memperhatikannya. Sesekali ia memandang ke langit. Cuaca tak secerah tadi. Sinar matahari semakin redup. Sama seperti tenaganya yang semakin lemah. Gadis kecil terus berpikir, bagaimana ia bisa mendapatkan korek api.

“Apa yang kamu pikirkan?”

Pemuda itu duduk di samping gadis kecil beralaskan aspal. Gadis itu mulai memperhatikan pemuda itu. Mulai dari pakaiannya yang bersih dan rapi, sampai potongan rambutnya yang cepak.

“Aku perhatikan dari tadi kamu meminta korek api, untuk apa? apa kamu merok*k?”

Gadis kecil tetap diam.

“Benar kamu merok*k?” Tanya Pemuda itu heran.

Gadis kecil menggelengkan kepala.

“Lalu?”

Pemuda itu menatap gadis kecil. Menunggu jawaban yang dilontarkan gadis kecil itu. Tapi gadis kecil tetap diam dan menundukan kepala. Hanya memandang kerikil di depan matanya. Merasa seperti kerikil itu. Kecil dan tak berarti. Sejenak termenung lalu ia pun melanjutkan perjalanannya. Merasa tak ada gunanya duduk di samping pemuda yang tentu akan memandang sebelah mata pada dirinya. Jangankan membagi kisah, meminta sebuah korek api pun rasanya tak mungkin padanya. Tanpa sepatah kata, gadis kecil pergi meninggalkan Pemuda itu seorang diri. Tak sampai gadis kecil itu melangkah kakinya sepuluh langkah, Pemuda itu langsung mengikutinya dari belakang. Rasa penasaran menghantui dirinya. Gadis kecil mempercepat langkahnya, merasa jiwanya terancam. Ia ingat perkataan ibunya ketika masih hidup, “Nak, jika ada bahaya menghampirimu, larinya ke tempat ramai, lalu teriaklah minta tolong”. Gadis kecil semakin mempercepat langkahnya, sementara Pemuda itu terus mengikutinya. Gadis kecil akhirnya berlari, dan terus berlari di tengah keramaian. Nafasnya tersengal-sengal, ia ingin sekali berteriak minta tolong, namun suaranya seakan tak bisa keluar, dan larinya pun semakin lama semakin lambat.

“BRUKK!!!” Gadis kecil pun terjatuh. Ia merintih kesakitan. Beberapa tetes air mata menetes ke pipinya. Pemuda itu segera menghampiri gadis kecil dan membantunya berdiri.

“Kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu lari-lari?” Pemuda itu setengah panik.

“Tunggu disini sebentar!”

Pemuda itu berlari meninggalkan gadis kecil setelah membawanya duduk di sebuah taman kecil di pinggiran jalan raya. Beberapa saat dia kembali sambil membawa plastik bertuliskan nama sebuah apotik.

Gadis kecil itu berhenti menangis dan memperhatikan pemuda itu yang sedang mengobati lukanya. Ia mulai merasakan ketulusan pemuda itu.

“Namaku Gadis” lirih Gadis kecil.

Pemuda itu tersenyum padanya. Tak banyak berkata-kata, dan terus mengobati luka-luka di kaki gadis kecil.

“Apa kamu punya korek api?”

Pemuda itu memandangnya heran.

“Punya apa gak?”

“Boleh aku tau kenapa kamu selalu meminta korek api?”

Gadis kecil itu tersenyum. Dan mulai bercerita. Pemuda itu mendengarnya dengan seksama. Sesekali ia menggelengkan kepala saat Gadis bercerita tentang dongeng sang ibu. Dongeng tentang Gadis penjual korek api, dimana tidak ada seorang pun yang mau membeli korek api yang ia jual. Sampai akhirnya gadis penjual korek api itu pun kelaparan dan kedinginan. Ia hanya bisa menyalakan korek api dan membayangkan tempat yang hangat dan makanan yang enak-enak.

“Aku mau seperti gadis penjual korek api dalam dongeng ibu. Siapa tau aku bisa mendapatkan makanan dan bertemu ibu di surga” ucap Gadis kecil.

“Kau bodoh! Itu kan hanya dongeng!” bentak Pemuda itu.

“Tapi.. sewaktu ibu masih ada, ibu selalu meminta-minta makanan tapi tak seorang pun di kota ini yang memberinya. ”

Tanpa banyak kata Pemuda itu langsung menghampiri toko makanan dan membelikan beberapa bungkus makanan dan minuman untuk gadis kecil. Sekejap ia langsung menghampiri gadis kecil itu lagi.

“Brakkk!!!” plastik dalam genggaman Pemuda itu jatuh berserakan di jalan, melihat gadis kecil tersungkur lemas dan jatuh.

“Hei.. bangun.. bangun… Gadis kecil bangunlah”

Pemuda itu terus mengguncang-guncangkan tubuh gadis kecil lalu meraihnya dalam pangkuannya. Memeriksa denyut nadi di tangan gadis kecil itu namun ia tidak menemukan adanya detakan kehidupan. Pemuda itu pun memeluk gadis kecil untuk yang terakhir kalinya.

“Aku terlambat. Maaf…” lirih Pemuda itu

Roh gadis kecil itu melayang-layang di udara. Tersenyum pada Pemuda yang masih memeluk jenazahnya yang terkujur kaku.

“Terima kasih pahlawanku, kakak orang pertama yang mau memberi aku makanan setelah sekian lamanya aku kelaparan. Sekarang aku tidak kelaparan lagi, dan aku akan bertemu ibu di surga”

THE END  http://goo.gl/1gaZ4X

Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito


SATU

Dua sosok bayangan hitam berkelebat dalam gelapnya malam. Pada waku siang saja hutan belantara itu selalu diselimuti kegelapan dan dicengkam kesunyian.

Apalagi di malam buta seperti itu. Hingga dua sosok yang bergerak tadi tidak ubahnya seperti dua hantu tengah gentayangan.

"Kita sudah dekat....." bisik bayangan di sebelah kanan. Ternyata dia manusia juga adanya.

"Betul, aku sudah dapat mencium baunya," menyahuti bayangan satunya.

Keduanya terus lari ke arah Timur rimba belantara. Tak selang berapa lama mereka sampai di bagian hutan yang baynak ditumbuhi semak belukar setinggi dada.

Di sini mereka hentikan lari. Tegak tak bergerak dan juga tidak bersuara. Hanya sepasang mata masing-masing memandang tak berkedip ke depan.

Di atas serumpun semak belukar lebar terletak sebuah batu lebar berbentuk hampir pipih. Di atas batu ini duduk seorang lelaki berpakaian rombeng penuh tambalan seperti pengemis. Dia mengenakan sebuah caping bamboo. Bagian depan caping ini turun ke bawah hingga dari wajahnya hanya dagunya yang ditumbuhi bulubulu kasar saja yang kelihatan.

Bau aneh seperti bau bunga kamboja busuk datang dari orang yang duduk bersila di atas batu ini. Entah berasal dari tubuhnya atau dari pakaiannya yang dekil kotor.

Otak dua orang yang barusan datang cepat bekerja. Batu pipih itu beratnya paling tidak 30 sampai 40 kati. Tetapi mengapa semak belukar setinggi dada itu sanggup menahannya? Lalu ditambah pula dengan berat badan orang bercaping yang duduk bersila di atas batu. Semak belukar tetap berdiri tegak! Akal manusia mana yang bisa menerima kenyataan ini?!

"Aku tak menyangka dia memiliki ilmu setinggi ini," bisik orang di sebelah kiri.

"Dia sanggup membuat tubuh dan batu yang didudukinya seringan kapas," balas orang di sebelah kanan. "Tapi kalau cuma ilmu meringankan tubuhnya saja yang hebat, kenapa kita musti takut?"

"Lalu bagaimana? Kita teruskan?" tanya orang yang pertama tadi.

"Seharusnya kau tak usah bertanya begitu. Ucapanmu menandakan keraguan hati. Kau kecut, bahkan mungkin takut. Padahal, bukankah kita sudah bersumpah untuk menangkapnya hidup atau mati?" kata orang kedua pula dengan nada sengit.

Lalu cepat dia menyambung. "Kau dari sebelah kiri. Aku dari kanan. Sekarang!"

Dua orang itu bergerak. Satu ke kiri, satu ke kanan. Tiba-tiba secara serempak mereka menyergap ke arah orang yang duduk di atas batu. Dari gerakan-gerakan mereka yang mengeluarkan suara angin bersiuran jelas dua orang ini bukan hanya melancarkan serangan biasa, tetapi serangan-serangan dahsyat yang bisa meremuk dada dan merengkahkan kepala!

Orang bercaping di atas batu kelihatan tidak bergerak sedikitpun. Seolah sama sekali tidak menyadari kalau dirinya tengah diancam bahaya maut. Sesaat lagi jotosan dari kanan akan menghantam caping di atas kepalanya dan jotosan dari kiri akan menghancurkan tulang dadanya, tiba-tiba dalam satu gerakan kilat yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, orang bercaping di atas batu angkat kedua tangannya.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/Vstlwy
Tag : , ,

Friday, 17 April 2015

Jangan Ikut-ikutan


Siang hari bersama dengan teriknya sinar matahari. Andi, anak smp kelas 1 amat bahagia bermain-main bersama dengan sepeda kesayangannya di tengah halaman rumah. Dan kadangkala ia pun berkreliling-keliling di daerah lebih kurang rumahnya.


Ketika andi tengah asik bermain bersama dengan sepedanya, tiba-tiba datang lah seorang teman andi yang bernama dony bersama dengan manfaatkan sepeda motor. Seketika menyebabkan andi dambakan turut mencoba.


“don, berani sekali kamu mengendarai sepeda motor itu. Padahal sepeda motor itu lebih besar berasal dari terhadap kamu.” kata andi bersama dengan rasa penasarannya.


“hahaha, kenapa tidak?” bersama dengan sombongnya “hanya anak penakut saja yang tidak berani.” kata dony bersama dengan angkuhnya sambil beranjak pergi meninggalkan andi.


Terbesit dalam benak andi dambakan turut mencoba. Dengan rasa curiga ia memberanikan diri untuk mencoba mengendari tidak benar satu sepeda motor milik orang tuanya sambil menuju garasi rumah.




 



Dengan perlahan ia mengeluarkan sepeda motor selanjutnya berasal dari garasi. Meski bersama dengan rasa risau bakal dimarahai oleh sang ibu, ia tetap nekat dambakan mencoba.


Selang lebih dari satu menit saja, ia sudah bisa mengendarai sepeda motor tersebut. Meski mulanya pelan, namun perlahan-lahan ia pun mencoba mengendarai sepeda motor terebut bersama dengan kecepatan yang tak selayaknya ia lakukan.


Dan tiba-tiba di persimpangan lampu merah. Andi tidak melihat bahwa lampu lantas lintas menunjukan lampu merah. Dan akhir nya….


“daaaaarrrrrrr…!!!”


Andi menanbrak seorang pedangang asongan yang hedak melintas. Seketika seluruh warga lebih kurang mendekat. Tak lama kemudian datang sebuah motor besar bersama dengan suara sirine yang tak asing lagi, polisi.


“ada apa ini?” bertanya polisi.


“ini pak, anak ini menambrak pedangang asongan ini.” sambil menunjuk ke arah andi.


“maaf pak, sa, sa, sa, saya tidak sengaja.” andi bersama dengan rasa gugup, risau bingung.


“nak, kau turut saja bapak ke kantor.” ajak polisi


“tapi pak…”


“nanti saja nak, jelaskan di kantor.”


Dengan pasrah dan bingung, andi pun turut ke kantor polisi.


Setibanya di kantor polisi.


“nak siapa namamu?” bertanya polisi.


“a a andi pak.” jawabnya gugup. “pak, boleh saya menghubungi ibu saya?”


“silahkan”


Setelah andi menghubungi ibunya, dan berikan tahu suasana yang sebenarnya, selanjutnya ibu andi tiba di kantor polisi.


“apakah kamu ibu berasal dari andi?” bertanya polisi terhadap ibu andi.


“ia pak.” jawab ibu andi.


Setelah itu andi berbincang-bincang dan kini tinggal menanti persetujuan berasal dari keluarga pedangang asongan yang andi tabrak untuk lewat jalur damai saja.


“bu, maafkan aku.” andi menangis ketakutan.


“andi kenapa kamu mengendarai sepeda motor itu? “tanya ibu bersama dengan heran.


“aku cuma dambakan mencoba bu saya tak dambakan di katakan pengecut, layaknya apa yang di katakan dony.” jawab andi.


“memangnya dony kenapa?”


“ia sudah berani dan bisa untuk mengendarai sepeda motor bu. Terus, kata dony, cuma anak pengecut yang tidak berani mengendarai motor.”


“andi, andi, kamu suatu selagi pasti bakal mengendarai nya. Tapi bukan sekarang. Sekarang bukanlah selagi yang tepat untuk anak seusia mu mengendarai motor. Jika kamu sudah berumur 17 th. nanti kamu terhitung pasti bisa mengendarainya. Jadi untuk sekarang, kamu menikmati saja dulu sepeda mu itu.” nasehat ibu berikan dorongan kepada andi sambil tersenyum.


“baiklah, bu.” menangis haru bersama dengan senyum semangatnya.


http://goo.gl/y8qeYT



Menulis Bikin Cantik

Sejumlah penelitian para profesor biologi dan psikologi ditulis dalam buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. Disana, pada lain, tertera pendapat James W. Pennebaker, “menulis perihal hal-hal yang negatif bakal memberi tambahan pelepasan emosional yang menghidupkan rasa bahagia dan lega”.

Fatima Mernissi, yang oleh lebih dari satu orang disebut sebagai pemikir-penulis, terhitung dulu menyarankan, “Usahakan menulis tiap-tiap hari. Niscaya, kulit Anda bakal menjadi segar kembali akibat kadar manfaatnya yang luar biasa.” Ia terhitung menyatakan bahwa, “menulis lebih baik daripada operasi plastik.”

Kedua alinea di atas saya kutip begitu saja berasal dari buku Fahd Djibran yang berjudul Writing is Amazing. (Juxtapose, 2008). Sayang sekali saya tak berkesempatan membaca buku-buku yang disebutkan Djibran.

Bagaimana pun saya percaya bahwa menulis menyebabkan Anda lebih “cantik” dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Mau “cantik”? Menulislah.


 * Andrias Harefa, Penulis 35 Buku Best-Seller. Info pelatihan penulis telpon 021-460 5757: 0815 8963 889; www.andriasharefa.com


http://goo.gl/tLN4S6
Tag : , ,

Thursday, 12 March 2015

Musuh Terutama dari Sikap yang Baik adalah Sikap TERBAIK Kita.


konvensional malah dalam arti prioritas utama adalah ketersediaan uang bulanan, tabungan dan investasi, baru kesenangan lainnya. Jadi boleh dikatakan saya terbebas dari hutang akibat dari paradigma yang mengacu pada prinsip, nilai yang diprioritaskan dan berkembang menjadi kebiasaan atau perilaku permanen (karakter).

Dalam dunia kerja, seperti di dalam pelatihan “Pelayanan Prima” yang sering bawakan di rumah sakit di seluruh Indonesia, saya selalu menekankan pentingnya prinsip Melayani dengan hati, diikuti dengan prioritas nilai keselamatan pasien, perilaku-perilaku pelayanan prima dan terakhir adalah keuntungan atau profit supaya hal ini jelas bagi pelaksana untuk dapat melakukan hal yang terbaik, setiap saat, setiap waktu.

Bayangkan bila ada seorang perawat atau petugas yang sedang mempraktekkan perilaku pelayanan prima dengan seorang pelanggan dan tiba-tiba terdengan bunyi sirine ambulan, tanda adanya sebuah panggilan darurat untuk seorang petugas di Instalasi Gawat Darurat namun petugas lain tidak segera membantu karena sedang terlibat percakapan atau pekerjaan lainnya tanpa menilai situasinya terlebih dahulu, maka bila terjadi hilangnya nyawa seseorang akibat kelalaian petugas, maka ini benar-benar sebuah pelanggaran nilai, baik secara individu maupun secara organisasi.

Itulah mengapa prioritas utama adalah keselamatan pasien dulu, perilaku-perilaku pelayanan prima kemudian dan keuntungan yang terakhir, bila melakukan hal yang sebaliknya atau tertukar, maka kita dapat menanggung konsekuensi dari hal-hal yang tidak dapat kita inginkan dan dapat kita cegah sebenarnya. Hati nurani sebagai kompasnya.

Oleh karena itu, saya sangat berharap kita semua dapat merefleksikan kembali dalam hidup, apakah kita sudah mempunyai prinsip-prinsip kehidupan yang selaras dengan hukum alam, mempunyai prioritas yang benar atas nilai-nilai pribadi anda dan organisasi? Bila anda sudah mampun menjawab kedua pertanyaan itu, saya mengucapkan selamat dan tinggallah pada keputusan akhir yang juga menjadi penutup dari artikel ini adalah apakah anda mau melakukan segala hal dengan usaha terbaik anda sebenarnya atau sekedarnya saja sebagai hasil dari pembatasan diri anda tentang kompensasi atau keuntungan yang akan anda terima, jawabannya 101 persen ada ditangan anda.

Happy Leadership!

*) Surya Rachmannuh, penulis kolom tetap di www.pembelajar.com ini adalah praktisi training dalam bidang pelayanan prima, personal effectiveness, problem solving and decision making, pelatihan Leadership dan Management lainnya.

Certified Lead Auditor dan Webmaster ini dapat dihubungi di :
Hp : 0819 3210 5388
www.webiddesign.com
surya.rachmannuh@yahoo.co.id
suryarachmannuh.blogspot.com 


 http://goo.gl/6jD0aT

CARNEGIE-BUFFETT
Warren Buffett. Siapa yang tak kenal nama ini. Sedikitnya, tiap orangyang membaca berita-berita ekonomi, atau pemain di bursa saham seluruh dunia, mengenal nama ini dengan baik. Bukan hanya mengenal, tetapi juga mencoba meniru sepak terjangnya, belajar darinya, atau bahkan ingin menjadi seperti Buffett.

Selama bertahun-tahun nama Buffett tercantum sebagai salah satu dari orang terkaya di dunia, bergantian dengan Bill Gates. Dalam biografi berjudul The Snowball yang ditulis Alice Schroeder tahun 2008 (diterjemahkan oleh penerbit Elexmedia, 2010, setebal lebih dari 1352 halaman), disebutkan jumlah kekayaan pribadinya pernah melebihi 60 miliar dolar Amerika, sekitar Rp 540 triliun. (Jika harta Buffett dibagikan kepada 30 juta penduduk miskin di Indonesia, maka masing-masing orang akan kebagian 2.000 dolar Amerika, kurang lebih Rp 18 juta).

Nama besar Buffett inilah yang membuat saya langsung duduk menonton tayangan mini biografinya di sebuah saluran tivi berbayar belum lama ini. Sayang saya hanya sempat melihat tayangan 15 menitan terakhir. Namun, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya ketika Buffett bicara tentang sertifikat yang dipajang di kantornya.

Ia mengatakan bahwa tidak satu pun ijazah pendidikan formalnya yang tertempel di dinding tempatnya bekerja. Tetapi sertifikat dari Dale Carnegie Training ada. Ketika ditanya mengapa begitu, ia menjawab singkat, “Pelatihan Dale Carnegie mengubah hidup saya”.

Sebagai mantan instruktur senior berlisensi Dale Carnegie Training, saya menduga bahwa program pelatihan yang mengubah hidup Warren Buffett itu adalah Effective Speaking and Human Relations(ESHR). Program ini merupakan satu dari dua program yang memang dirancang langsung oleh Dale Carnegie (1888-1955) lewat proses panjang yang mengagumkan. Diujicoba dan dilatihkan untuk umum sejak 1912, pelatihan yang awalnya bernama Public Speaking for Businessmen ini memang fenomenal, sehingga “penganut”ajaran Carnegie disebut Carnegian. (Bisa ditambahkan bahwa Mochtar Riady, pendiri kelompok Lippo; Jonathan L. Parapak, Direktur Utama PT Indosat pada masa Orde Baru, dan Cacuk Sudarijanto, yang pernah menjabat sebagai Direktur Telkom, adalah alumni Dale Carnegie Training tahun 70-an akhir).

Apa inti pokok ajaran Carnegie, yang berhasil menginspirasi dan mengubah hidup banyak orang, termasuk orang sekaliber Buffett?

Jawabannya bisa ditemukan dalam dua karya klasik: How To Win Friends and Influence People (terbitan 1936) danHow To Stop Worrying and Start Living (1948). Kedua bukubest-seller sepanjang masa itu yang ditulis oleh Dale Carnegie berdasarkan catatan yang amat cermat dari kesaksian peserta pelatihannya selama puluhan tahun, ditambah sejumlah referensi. Gaya penulisannya populer, sehingga sangat nikmat dibaca.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/qEFfx1

Say No To Drugs
Di tahun 2013 ini, ternyata masih ada saja, pengedar nark*ba, pecandu nark*ba, dan sebagainya. Sebenarnya apa sih yang dipikirkan oleh pelaku tersebut, apa mereka tidak takut dosa? bahkan apa mereka tidak takut TUHAN? waduh, gawat nih bila mereka tidak takut TUHAN, itu namanya tidak menghargai TUHAN. itulah yang dilakukan oleh fahrel syahputra, sampai akhirnya dia masuk jeruji besi alias penjara, dan di situlah fahrel syahputra tobat.

Sebenarnya sih asal muasal fahrel menjadi pecandu, akibat kelalaian orangtua dan kurang mendapat perhatian dari orangtua. Orangtua fahrel sangat sibuk dengan masalah bisnisnya masing-masing, akibatnya, ya begitulah fahrel kesal dengan orangtuanya dan akhirnya dia memutuskan untuk memakai obat-obatan alias nark*ba. Awalnya sih fahrel dan teman-temannya hanya coba-coba saja, setelah beberapa kali memakai nark*ba, akhirnya mereka bergantung pada barang haram tersebut.

Mau tau kelanjutan ceritanya, yuk.. disimak…

“fahrel… fahrel…” panggil mama dari luar rumah.
“iya.. ma” sahut farel menuju luar rumah dengan malas
“mama sama papa pergi dulu ke munchen, jerman ya, fahrel mau oleh-oleh apa?” Tanya mama.
“GAK ADA!!!” bentak fahrel
“fahrel maunya mama di rumah saja” pinta fahrel dengan nada marah
“jangan gitu dong sayang, mama dengan papa kan kerja untuk masa depan fahrel juga” bujuk mama
“ya, gak perlu juga kan mama kerja, bila papa aja yang kerja, kan rezeki kita sudah lebih dari cukup ma” ucap fahrel, sambil ngelirik papa yang dari tadi hanya nginyem.
“ya udah lah, kapan-kapan saja kita lanjutin omongan ini, mama sama papa udah telat nih” ujar mama. Segera mama dan papa langsung masuk mobil avanza berwarna hitam metalik milik keluarga fahrel, tidak lama kemudian, avanza itu pun langsung meninggalkan rumah fahrel dan meluncur ke bandara HANG NADIM – BATAM.

“sebenernya aku males banget nih punya orangtua gini, gak ngerti sama anak, mereka pikir dengan mereka kasih aku uang lebih dari cukup, tanggung jawab mereka udah selesai gitu, aku coba make put*uw ah… siapa tau itu bikin aku tenang” ujar fahrel di kos-kosan teman-nya.
“ya udah mari kita memakai put*uw” sahut salah satu teman fahrel.
“tapi, aku gak ado pitty lah” sahut teman fahrel yang satu
“tenang aja, aku ada uang kok.” ucap farel.............

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/tnRAh5
Tag : , ,

Monday, 23 February 2015

Mawar Dari Surga


14 Februari 2006

Dua minggu yang lalu pesawat yang ditumpangi Arga telah dinyatakan hilang, hingga hari ini pesawat yang ditumpangi Arga belum ditemukan. Arga adalah suamiku, kami menikah sekitar tiga bulan yang lalu. Saya mulai pasrah menerima keadaan ini. Beberapa kerabat sering datang ke rumah untuk memberi dukungan doa dan penguatan.

Kupandangi seikat bunga layu di dekat foto Arga. Bunga layu itu adalah hadiah valentine dari Arga untukku setahun yang lalu. Sekalipun Arga bukan sosok yang romantis, ia sering memberi kejutan-kejutan kecil kepadaku. Memberi bunga padaku saat Valentine adalah salah satu hal wajib bagi dia.

Hari ini sebenarnya adalah Valentine pertama bagi pernikahan kami. tapi Arga malah ?pergi? meninggalkan aku.

...

?Permisi..? kudengar suara orang mengetuk pintu. Segera aku menuju pintu dan membukanya.

?Apakah ini rumah Ibu Arga ?? tanya orang itu.

?Ya saya sendiri.? Jawabku

?Ini bu.. cuma mau mengantar kiriman bunga dari Bapak Arga.? Katanya sambil menyodorkan seikat Bunga Mawar yang sangat indah. Aku baca tulisan di kertas kecil, terdapat tulisan ?Semoga aku mencintaimu lebih lagi di tahun ini.. (Arga)?

Aku menerimanya sambil melongo?

?Tapi.. tapi.. Bapak Arga telah hilang ..dan mungkin telah tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu.. ? Kataku pada pengantar bunga itu setengah tidak percaya.

?Lho kok bisa ?? kata pengantar bunga itu. Kemudian dia mengambil HP dari saku dan menelepon atasannya. Mungkin dia ingin memastikan bahwa itu bukan bunga salah alamat atau kiriman orang iseng.

Agak lama dia menelepon. Aku juga tidak begitu jelas mendengar percakapannya dengan atasannya.

?Begini bu, ini memang benar-benar bunga dari Bapak Arga.? Pengantar bunga itu akhirnya berkata, ?Bapak Arga sendiri yang memesan bunga ini sekitar tiga bulan yang lalu, dan dia ingin agar bunga-bunga ini di antar pada tanggal 14 Februari?

Dia melanjutkan, ?Bapak Arga telah memesan sepuluh ikat bunga kepada kami, dia ingin kami mengantarkannya kepada anda setiap tahun pada tanggal 14 Februari, hingga 10 tahun ke depan. Bapak Arga juga telah menulis 10 kartu ucapan dengan kalimat-kalimat yang berbeda untuk diselipkan dalam setiap ikatan bunga pesanannya.?

Tiga bulan yang lalu.. setahuku itu adalah bulan saat kami menikah.

...

14 Februari 2007

Hari ini bunga mawar itu dikirim lagi oleh pengantar bunga itu. Aku tersenyum saat pengantar bunga itu menyodorkan bunga itu kepadaku.

Setelah meletakkannya di dekat foto mendiang suamiku, aku potong salah satu bunga itu, dan memegangkannya ke tangan mungil anak pertamaku. Bayi kecil lucu itu, yang mewarnai hari-hari indahku akhir-akhir ini.

?Ini nak.. ada bunga dari Bapak..? kataku lirih.

Aku sengaja memberinya nama ?Arga Samudra? ? sama persis dengan nama bapaknya, agar kelak dia punya kekuatan untuk mencintai, setulus bapaknya.
 
 
 http://goo.gl/N2jUae

 Faktor ?R?
Membaca sejumlah tulisan saya mengenai resep sukses, seorang kawan mengirimkan sandek alias sms ke telepon seluler saya. Bunyinya demikian : ”Halo Bung. Tulisan Anda seputar kiat sukses banyak menginspirasi saya. Akhirnya saya menyadari bahwa penting sekali memahami cara menyingkirkan keyakinan negatif, ketakutan berlebihan, dan kebiasaan yang menghambat perkembangan saya. Ibarat mengendarai mobil sambil menginjak rem, berbagai rintangan dapat memperlambat kemajuan saya. Saya perlu belajar melepaskan pedal rem, atau saya akan sering mengalami kehidupan sebagai perjuangan dan gagal mencapai impian hidup, cita-cita, atau target saya. Terima kasih sudah menyapa kehidupan saya. Teruslah menulis.” (Namanya sandek, kok malah panjangnya sampai 557 karakter, termasuk spasi. Mungkin namanya harus diubah menjadi sanjang alias pesan panjang hahahaha).

Wah, mendapat sandek yang demikian, kepala saya jadi agak membesar. Rupanya ada juga—tentu saja pasti ada—yang terinspirasi dengan gagasan-gagasan sederhana yang saya bagikan di berbagai forum dan media. Bagi seorang pembelajar sekolah kehidupan yang mendedikasikan sebagian hidupnya untuk menyebar harapan kepada banyak orang—lewat berbagai seminar, pelatihan, dan tulisan—tanggapan semacam itu sungguh seperti siraman air yang menyegarkan.

Kesegaran batin dari tanggapan kawan tersebut terutama bukanlah karena ia berterima kasih pada saya. Untuk hal yang satu ini, saya punya banyak pengalaman. Hampir dalam setiap kesempatan berbagi pesan-pesan kehidupan, sejumlah orang berterima kasih pada saya. Dan saya pun, dalam banyak kesempatan, berterima kasih kepada mereka atas undangan dan kesempatan menyampaikan pesan-pesan itu secara lisan maupun menyapa mereka lewat tulisan. Jadi, soal saling berterima kasih itu adalah hal biasa.

Kalau ada kawan-kawan yang agak berlebihan dalam menyampaikan terima kasihnya, saya tak jarang mengingatkan bahwa kalau mau jujur, dalam hidup ini kita menjadi murid dan guru sekaligus. Tidak benar bahwa saya sebagai narasumber, sebagai trainer, sebagai pembicara motivasi, sebagai fasilitator pembelajaran, atau sebagai penulis, selalu dalam posisi pengajar atau guru. Lewat proses mengajar, memotivasi, memandu proses pembelajaran, atau menulis, saya juga sekaligus belajar. Tidak benar kalau hanya orang-orang yang mendengarkan dan membaca tulisan saya saja yang belajar kepada saya. Saya pun, dengan cara saya, menarik pelajaran dari tanggapan-tanggapan mereka.

Ibarat setiap atasan yang membutuhkan bawahan dalam bekerja (atau sebaliknya), demikianlah pembicara dan penulis membutuhkan audiens pendengar dan pembacanya. Hubungan di antara keduanya bersifat resiprokal, timbal balik. Jadi, sangatlah wajar jika masing-masing menunjukkan rasa terima kasih dengan cara-cara tersendiri.

Yang menyegarkan batin saya dari sandek kawan satu ini bukan terima kasihnya, melainkan isi sandeknya yang merupakan resep sukses tersendiri.

Untuk mudahnya, resep sukses kali ini saya sebut Faktor R alias rem.

Faktor Rem ini mencakup tiga komponen penting, yakni : pertama, menyingkirkan keyakinan negatif; kedua, mengatasi ketakutan berlebihan; dan ketiga, membuang kebiasaan yang menghambat perkembangan. Ketiga komponen ini bersifat menghambat laju gerak langkah meraih sukses. Dan ketiga komponen ini biasanya justru saling terkait, saling terhubung, tidak berdiri sendiri.

  ... baca selengkapnya di : http://goo.gl/OPzyRc
Tag : , ,

Wednesday, 11 February 2015

Sacrifice of Love


Pagi ini hari pertama Senandung masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Seperti biasa sahabatnya Fira selalu menghampirinya untuk berangkat ke SMAN Bina Bangsa. Sekarang mereka sudah naik ke kelas 11. Saat Fira datang “Senandung.. kelas kita diacak!” kata Fira dengan nada khawatir kepada Senandung yang sedang memakai sepatu.
“Hah..? diacak!!? Yang bener kamu!?”
“Iya, beneran!?”
“Trus kita sekelas nggak?!”
“Sekarang kita sekelas”
“Trus dia sekelas sama kita nggak?”
“Iya.. sekelas”
Senandung hanya tediam dengan muka yang agak gelisah. Fira dan Senandung adalah sepasang sahabat tapi beda kelas mereka adalah anak kelas imercy (kelas unggulan). Lalu batin Senandung hanya mengeluh “Oh.. dear kenapa harus satu kelas?”
“Fira, sebenernya aku udah denger desas desusnya kalau waktu kelas 11 ini kelas kita bakal diacak..”
“Trus kamu gimana?”
“Gimana apanya?”
“Ya itu..”
“Oh.. itu, ya.. aku harus bisa membaur lah.. kan satu kelas,” Dengan muka tersenyum tidak bahagia.
“Ya udah berangkat yuk..”
Lalu Senandung segera beranjak dari posisi duduknya dan pamit dengan orangtuanya lalu berangkat.

Sampai di sekolah. Dan bel 3 kali berbunyi menandakan masuk kelas.
Sekarang memang Senandung masih di kelas A, tapi ada bagian baru dan bagian yang hilang dari kelasnya. Teman teman Senandung di kelas 11 ini memang lebih asik dibanding saat dulu ia kelas 10. Pada awalnya ia sangat malu untuk berbicara dengan Aldo, dan teman teman dari lain kelas yang lainnya.

Seiring berjalannya waktu, telah berlalu selama 2 bulan
Senandung sudah merasakan rasa ini sejak kelas 10, rasa itu selalu muncul saat menatap mata Aldo. Tapi Aldo adalah laki-laki yang ramah kepada semua orang sekalipun orang itu sangat dibencinya. Dan Senandung sering melihat pemandangan yang membuat hatinya merasa sebal saat Vio bercanda dengan Aldo. Vio terlihat sangat agresif terhadap Aldo. Dan parahnya Aldo sepertinya merespon sikap-sikap Vio. Tapi Vio termasuk teman dekatnya di kelas. dan Senandung selalu mencoba untuk melupakan Aldo tapi sangat susah.

Saat pulang sekolah
Ada yang memanggil Senandung dari belakang “Senandung..!” Ooh.. dear suara itu selalu membuat jantungnya berdebar kencang saat sendirian. Senandung langsung menengok ke arah suara itu, benar saja itu memang suara Aldo. Aldo menyusul Senandung yang sedang berjalan ke arah gerbang yang sepi. Ya.. mereka pulang lebih sore karena kebetulan jadwal piket mereka di hari yang sama. “eh.. do, ada apa?” jawab Senandung dengan nada yang berusaha datar.
“Pulang bareng yuk, rumah kita kan searah?” Deg.. pertanyaan itu membuat jantung senandung terasa sangat berat.
“Mmhh.. kan searahnya, Cuma sampe perempatan depan situ! Gak usah lah aku nunggu angkot aja.”
“Jam segini udah susah nyari angkot, kamu kemaren nunggu sampe 2 jam kan!”
“Iya sih, tapi gak susah juga kok”
“Beneran? Ya udah deh kalau kamu gak mau, ak pulang dulu ya.. “
“Ya..”
Sambil melihat Aldo dari kejauhan, di dalam hati Senandung menyimpan sedikit penysalan dan rasa senang, karena Aldo juga memperhatikan Senandung.

Esok harinya di sekolah
Aldo sama sekali tidak mengungkit hal itu, dan Senandung pun juga. Hari itu, tidak tau kenapa Senandung merasa badannya terasa agak lemas. Dan saat pelajaran sepanjang hari Senandung merasa pusing. Lalu saat pulang sekolah, dia pulang dibonceng Fira.

Dan esok harinya Senandung tidak masuk sekolah selama satu hari itu saja karena ia sakit. Saat di sekolah mama Senandunglah yang menyampaikan surat izin Senandung. Lalu setelah Senandung kembali ke sekolah esok harinya, ia disapa oleh Aldo yang sedang berdiri sendiri di depan pitu kelas.
“Hey.. Senandung!”
“Eh.. apa?”
“Kami kenapa kemarin gak masuk”
“Oh.. sakit biasa, Cuma kecapekan”
“Oo.. ya sukur deh hari ini bisa masuk”
“Ya.. makasih” dengan senyum khasnya.
Senandung hanya menganggap perhatian kecil Aldo hal yang remeh.

Hingga pada satu hari
Pada hari itu hari mendekati hari penerimaan rapor kenaikan kelas, Senandung mendengar kabar bahwa Vio sudah berpacaran dengan Aldo. Ketika mendengar kabar itu seperti terasa meleleh hati Senandung. Tapi Senandung berusaha menutupi kesedihannya dengan terlihat tegar, dia memendam kesedihannya, karena dia memang orang yang cukup tertutup.
Saat pulang sekolah, Senandung pulang bersama Fira.

“Senandung, kamu yang sabar ya”
“Kenapa sabar?” dengan mata sedikit berkaca
“Lhoh kamu tau kan tentang..”
“Iya, aku tau..” matanya semakin berkaca
“Kamu gak usah nutup-nutupin kalau kamu memang sedih! Kamu jangan bohongin perasaanmu!”
“Fira, kalau aku gak berusaha bohongin perasaanku kelas kita bisa bubar” Senandung menitikan air matanya
“Enggak gitu juga donk!”
“Iya, aku memang masih nyimpen perasaan, tapi dia aja udah punya pacar sekarang, dan dia enggak pernah ngelihat aku, dan seberapa besar perasaanku” tangis Senandung semakin menjadi
“Hhmm.. kamu yang sabar ya mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu..”
“Iya, makasih Fira”

Saat akhir semester 1 kelas 12, Saat hari ulang tahun Aldo
Pagi hari itu Aldo membuka ponselnya, tertera nama Si Cantik, mengirim pesan pada pukul 12.00, pesannya berisi “Happy birthday Aldo, wish you all the best ya..” dan Aldo membalas “Thank’s ya Senandung” dijawab “Ya sama-sama.” Pagi itu Aldo menunggu SMS Vio, tapi tak kunjung masuk ke ponsel Aldo.

Saat di sekolah
Semua mengucapkan selamat kepada Aldo, tapi saat Vio “Selamat ulang tahun ya.. maaf tadi pagi aku lupa.” dengan nada agak ketus Aldo menjawab “Yaa..” Vio tak menyadari jika pagi itu Aldo merasa sebal dengan Vio yang melupakan hari ulang tahunnya. Memang, itu memang hal yang cukup sepele, tapi perhatian itu berarti besar. Dan Aldo bertanya-tanya, kenapa yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya Senandung, dan bukan malah pacarnya.

Satu hari, saat Senandung sedang duduk santai sendirian waktu istirahat di depan kelas lalu Nina duduk di samping kiri Senandung. Dan tiba tiba Aldo datang dan duduk di samping kanan Senandung, mereka bercanda biasa, lalu datang Fira, Rafi, Cantika, Firman, dan Andika. Mereka makin asik saja bercandanya. Sampai tiba tiba Vio datang dan langsung menarik tangan Senandung, “kamu ngapain dekat dekat sama Aldo?” Vio bertanya dengan Nada meninggi.
“Aku nggak ngapa-ngapain kok, Cuma becanda bareng bareng aja, biasa,” Jawab Senandung dengan halus
“Yang bener?!”
“Iya, menurutmu memang aku ngapain?”
“Kamu pasti mau jadi selingkuhannya Aldo”
“Kamu, kok nuduh aku gitu sih?”
“Aku bukan nuuduh tapi ini fakta! Atau apa selama ini kamu suka ya sama Aldo!”
“Enggak Vio, kamu jangan nuduh gitu dong..!”
Tiba tiba Aldo datang dan menyela pembicaraan..
“Vio! Kamu kenapa sih nuduh Senandung gitu?”
“Aku bukannya nuduh tapi mau ngungkap fakta”
“Tapi kamu itu udah fitnah Vi, aku denger kok apa yang kamu bilang ke Senandung tadi..”
“Trus apa kamu mau komentar apa?”
“Halah Vi, kamu mikirnya yang dewasa dong! Trus bisa-bisanya ya kamu nuduh sahabat kamu kaya gitu Vi?”
“Sahabat!? Kamu bilang aku sahabatan sama Senandung? Yang bener aja?”
“Oh, jadi selama ini kamu sok-sok’an bilang sahabat di depanku itu Cuma bohongan?!” Senandung menyambung dengan nada agak tinggi.
“Kalau iya, kenapa?”
“Kamu tega ya Vi, ternyata kamu itu munafik Vi, gak seperti yang kubayangin. Ternyata selama ini kita pacaran, aku itu belum bener-bener kenal kamu!” sambung Aldo lagi.
“Vi, kamu munafik ya.. sebenernya dari dulu aku udah tau kamu itu bukan bener bener temen yang baik.. dan sekarang udah bener bener kelihatan Vi..”

Bel masuk berbunyi, perdebatan mereka terhenti. Saat pelajaran suasana pelajaran di kelas terasa tidak nyaman untuk mereka bertiga.
Saat pulang sekolah Aldo mengajak Vio bicara berdua, tapi mereka tidak hanya berdua saja, saat itu Aldo mengajak Senandung juga. Vio tentu saja langsung menolak tapi keinginan Aldo sangat keras, jadi Vio tidak bisa membantah.

Perbincangan mereka bertiga dimulai, Vio yang memulainya..
“Kamu mau apa lagi sih Do? Kamu kenapa gak minta maaf ke aku?”
“Minta maaf?!” Aldo menjawab dengan mata melotot
“Iya, kamu masa’ gak ngerasa sih?”
“Minta maaf apanya coba?! Setelah aku udah tau belangnya kamu, trus kaamu ngarepin aku buat minta maaf? Nggak akan ya Vi!”
“Tuh kan, kamu sekarang pasti seneng kan Aldo marah marah sama aku!” Nadin berbicara mengarah pada Senandung
“Kamu kenapa ngomongnya gitu sih Vi!”
“Kamu selama ini suka kan sama Aldo!”
“Ah ya udahlah Vi kalau kamu nuduh aku gitu terus mending aku pulang.” Saat itu juga Senandung meninggalkan Vio dan Aldo.
“Senandung..” teriak Aldo
“Kamu kenapa sih malah manggil Senandung?!”
“Kamu tega Vi, aku nyesel Vi pernah suka sama kamu, pernah muji kamu, pernah pacaran sama kamu! Kalau gitu aku pengen kita putus!”
“Ya gak bisa gitu dong!”
“Aaaah.. udah terserah pokoknya sekarang kita putus!” sambil berlari meninggalkan Vio

Sementara itu Aldo mencari Senandung di parkiran tapi ternyata Senandung sudah pulang. Lalu Aldo memutuskan untuk pergi ke rumah Senandung. Saat Aldo sampai di rumah Senandung, pintu rumah Senandung terbuka, dilihatnya di dalam ada Senandung yang duduk sendiri di ruang tamu sambil menangis. Aldo masuk ke rumah Senandung dan berbicara dengannya. Aldo menceritakan bahwa ia putus dengan Vio, Senandung kaget mendengarnya. Senandung menangis dan dia juga bercerita kaalu dia sangat sedih dan sakit hati dituduh seperti itu oleh Vio. Aldo menenangkan Senandung dan merangkulnya. Mereka berdua hari itu menghabiskan sore berdua sambil menghilangkan sedih dan marah di hati mereka.

Setelah Vio putus dengan Aldo, hubungan Aldo dan Senandung dengan Vio kurang baik. Tapi hal baik dari kejadian itu, lama lama Aldo dan Senandung semakin dekat saja. Memang betul, mereka semakin dekat tapi Aldo tidak tahu kalau selama ini Senandung menyukainya, dan Senandung takut jika Aldo tahu nanti Aldo akan menjauhinya. Sampai akhirnya mereka lulus mereka masih saja dekat. Tapi saat mereka sudah menjadi mahasiswa mereka hilang kontak.

Satu hari Senandung mendapat kabar kalau Aldo sudah punya pacar lagi. Ia mendapat kabar itu dari temannya. Sakit sekali hati Senandung, tidak terasa saat ia memikirkan hal itu air matanya sudah membasahi pipinya. Ia berpikir, untuk apa dia memikirkan orang yang tak memikirkannya. Senandung sudah berusaha melupakan Aldo, tapi saat sudah mulai lupa bayang bayang Aldo pasti kembali.

Hari itu hari ulang tahun Senandung, tanggal 14 Maret ia mendapat ucapan selamat dari sahabat lamanya yaitu Fira. Senandung bercerita tentang hal hal yang dialaminya selama mereka berpisah tak terkecuali tentang Aldo yang sudah punya pacar. Setelah mendapat kabar itu Fira langsung menelpon Aldo. Ia memarahi Aldo yang tidak peka dan ia memberi tahu kalau selama ini Senandung menyukainya. Saat itu juga Aldo langsug memutuskan pacarnya, karena ia sadar, ia hanya berpacaran karena terpaksa untuk melupakan bayangan lamanya.
Hari demi hari berlalu, lama lama Aldo tersadar ternyata perempuan yang selama ini ada di hatinya itu bukanlah mantan-mantannya.

Pagi hari, tanggal 15 maret 2014
Ada kiriman kado di depan rumah Senandung. Setelah dibuka ternyata isinya teddy bear coklat seperti keinginan Senandung yang dulu pernah ia ceritakan pada Aldo, juga ada surat yang isinya “Selamat ulang tahun ya Senandung. All the best wishes for you. Maaf kadonya telat satu hari, tapi ini kan kado yang kamu pengenin dulu senandung? Oh ya kalau kamu mau tau siapa aku nanti aku tunggu jam 5 sore di taman. Aku pake baju warna krem.” Senandung terkejut dengan hadiah dan surat itu.

Sore hari jam 5 sore Senandung pergi ke taman lalu ia melihat laki laki berbaju warna krem yang duduk menghadap membelakangi Senandung lalu dari belakang Senandung menepuk pundak laki laki itu, dan ternyata ia adalah ALDO. Jelas saja Senandung kaget. Lalu ia bertanya “Do, jadi kamu yang kirim boneka itu?” Aldo menjawab “Iya aku yang ngirim.” Senandung terdiam. Lalu Aldo berkata
“Senandung, aku minta maaf ya..”
“Minta maaf kenapa?”
“Aku selama ini gak peka sama kamu, dan sekarang aku mau jujur sama kamu.”
“Gak peka apa sih trus mau jujur tentang apa?”
“Senandung aku berharap semoga kamu masih punya perasaan yang sama kaya aku ya.. Senandung, aku cinta sama kamu. Kamu mau kan nerima cintaku?”
“Do, perasaanku dari dulu sampai sekarang belum berubah ke kamu “
“Jadi kamu mau nerima aku?”
“Iya aku mau..”
“Makasih ya Senandung..”

Dan akhirnya mereka berdua berpacaran sampai akhirnya menikah, punya anak dan semua cobaan mereka hadapi berdua.

Pesan: saat kamu ngerasa menderita karena cinta berarti kamu salah mengartikan, kesedihan cinta itu bukan penderitaan tapi sebuah pengorbanan cinta dan pengorbanan cinta itu bukan uang atau harta tapi itu adalah perasaan. Sikapi semua kesedihan cintamu dengan bijak maka kamu akan mendapat sesuatu yang indah. Dan semua cinta itu pasti akan indah pada waktunya.


http://goo.gl/eWuLNo

Meski Tanpa Ayah
Pagi ini kusambut mentari pagi. Kulangkahkan kaki menuju sekolah, meski tak ada lagi yang mengantarku. Tak seperti dulu saat ayah di sisi ku Ia akan menyambut pagi ini dengan bunyi klakson motornya yang berisik tanda ia terlalu lama menunggu. Bunda akan melihatku dan mengantarku hingga di depan pintu dengan senyuman hangatnya.
Yahh, tapi itu dulu, saat ayah ada di antara kami, kini tak ada lagi senyuman hangat dari bunda, yang ada hanyalah muka letih karena terlalu lelah bekerja, yang ada hanyalah kerut muka tanda bertambah usia.

Dulu aku berfikir betapa menyebalkan ayah dengan segala peraturan yang dibuatnya, tapi kini aku merindukan segala tutur katanya, betapa lembut belaian darinya, bahkan harum tubuhnya pun kini aku rindukan. Aku menyadari betapa pentingnya ia di hidupku, kini pelita itu telah hilang seolah pergi tanpa bayang. yang kucari tak lagi dapat kutemukan hanya angan yang tersisa.

Saat kepergian ayah, kurasakan kehilangan yang luar biasa, hatiku bergejolak, tapi kulihat Bunda ia seolah ingin melawan takdir, hatinya begitu tersayat, raungan kepedihan begitu mendalam di hatinya, berkali kali ia pingsan, menyebut nama ayah tanpa sadar.

Yah, lagi lagi itu dulu, kini aku bersama bunda memulai hidup baru, memulai menata hidup kami kembali, kini aku mulai menyongsong masa depan lagi lagi “Meski Tanpa Ayah” di sisi. Bunda mulai menerima kenyataan bahwa ayah telah tiada bersama kami. Bayang-bayang suara ayah akan keinginanya untuk agar aku menjadi dokter semakin membangkitkan emosi. Ayah, lihatlah aku, meski tanpamu kini aku bisa berdiri, dan meraih impian, tapi ini semua tak lepas dari keinginanmu. Love you ayah..

http://goo.gl/O3J7t0
Tag : , ,